Migunani Tumraping Liyan
Seharusnya dia menangis, tertunduk, atau apa saja yang menunjukkan kesedihan ketika dia mengatakan bahwa kakinya patah, bahwa motornya remuk, bahwa rumahnya hancur, bahwa ayahnya telah tiada, bahwa adiknya meninggal.
Ya, seharusnya dia bersedih, tapi tidak.
Karena kehilangannya menjadi tidak istimewa, karena semua orang yang ditemuinya juga mengalaminya, karena semua orang didekatnya juga kehilangan; setelah guncangan yang meluluhlantakkan pagi di selatan kota yang ramah ini, setelah hitungan detik yang menghancurkan asa manusia, gempa tektonik lima koma sembilan skala richter di selatan Yogyakarta.
Mungkin sehari, seminggu, sebulan atau bahkan seumur-hidup dia akan terus berjuang untuk tetap tabah, untuk tetap kuat, untuk mencari cahaya bernama harapan, aku tak tahu. Yang aku tahu hanya selalu ada secuil kesempatan untuk sekedar berbuat sesuatu bagi mereka; entah mungkin hanya berdoa, mungkin sekedar menyisihkan uang, darah, waktu, tenaga atau apapun itu untuk mereka.
Menjadi manusia komplet adalah ketika kita membagi hidup dengan orang lain, melakukan kebaikan, migunani tumraping liyan; menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain, memberi dan membuat arti pada hidup. Sekecil apapun itu.
...
Malam-malam yang hujan, orang-orang kedinginan, aku sedikit capek. Begitu pesan pendekku padamu. Ada yang terlihat selain tangis dan kehilangan pada sorot mata mereka; ketika kami saling bersalaman, atau ketika beban itu seolah berpindah saat kami memeluk mereka, ketika mengetahui ada orang lain yang mengasihi mereka, atau ketika mereka hanya melemparkan senyum harapan dengan sedikit menahan airmata agar tidak jatuh. Mungkin kebersamaan, bisa jadi harapan. Jika memang kepercayaan, harapan dan kasih tak akan pernah hilang dalam dunia ini, maka satu yang pasti;
bahwa hidup adalah tentang mengasihi.
Mencuri Senyummu
Wajahmu berseri-seri, senyum yang selalu menempel, kaus merah jambu, rambut yang masih basah mengerudungi kepalamu, membuatmu kelihatan begitu segar di pagi sebelum kamu meninggalkan kota yang ramah ini. Kamu manis, sungguh. Dan aku mencintaimu.
Aku hanya memiliki limabelas menit sebelum sosokmu hilang menuju kerumunan di balik pintu dengan tulisan departure di atasnya. Aku tahu limabelasjuta menitpun masih kurang bagiku untuk membagi semuanya denganmu. Aku juga tahu kata-kata tak pernah cukup untuk melukiskan semuanya. Aku bahkan tahu aku tidak pernah bisa menghentikan waktu. Tapi aku malah diam. Kamu juga. Aku suka berflip-flop denganmu. Dan kita mungkin sedang berflip-flop saat kita diam.
"Sukses buat kamu ya fir." Katamu sesaat setelah kamu memutuskan untuk masuk kedalam.
"Kamu juga." Jawabku.
"Take care!" Dan kita berflip-flop lagi. Aku senang dan aku tak bisa menutupinya.
"Ok, let's make a wish." Ajakmu.
"Ya, dan kita akan melakukan flip-flop lagi ketika membuat harapan." Aku tertawa. Kamu tersenyum. Lalu aku benar-benar membuat harapan.
Sejenak aku hanya bisa melihatmu setengah berlari seolah pilot pesawat penerbangan pertama hari itu sudah menyalakan mesinnya. Aku hampir berteriak pada punggungmu sesaat ketika kamu memutuskan untuk membalikkan wajahmu ke arahku.
"I'll miss you." Kataku setengah berteriak.
"Miss you too." Kamu tersenyum.
Bagaimana aku bisa mencuri senyummu jika kamu memberikannya padaku sebelum aku sempat mencurinya?
Adi Sucipto, Yogyakarta. 26 Mei 2006, 07:30 am.
Selamat Hari Bulan
Hujan turun seperti marah, pada atap bus aspada yang menuju kota yang ramah kemarin sore. Hujan yang pasti membuatmu basah setelah sesaat kamu bilang padaku jika kamu dilengkapi dengan teknologi water resistance, tahan air. Benar-benar seperti jam tangan model sport saja, tak lapuk karena tetesan air. Padahal hujan kemarin membawa hawa dingin yang menusuk, juga hembusan angin yang merobohkan pohon-pohon. Dan kamu malah menikmatinya. Tidakkah kamu kedinginan?
Aku harap hujan itu segera berakhir.
Aku selalu ingin menulis tentangmu. Kamu tahu itu. Dan kamu pernah memprotesku ketika kamu menganggapku melihatmu secara hiper-realistik. Pada akhirnya semua orang lebih menghargai kejujuran daripada sanjungan. Anggap saja aku sedang terlalu jujur padamu. Ya, anggap saja begitu. Selalu ada sesuatu yang tersimpan, mungkin hal-hal kecil, darimu sehingga aku ingin menyampaikannya padamu. Entah lewat jurnal ini, lewat pesan-pesan pendek, tulisan di halaman buku, ceplas-ceplos ketika kita bertemu, jendela Yahoo!Messenger, atau cuma empat menit limapuluh sembilan detik di tengah malam. Hal-hal kecil itulah yang membuatmu begitu menyenangkan.
Ya, kamu bisa menjadi berkat bagi orang-orang yang mengenalmu, kamu juga bisa melukai hati mereka. Kamu adalah sahabat dalam semua kecemasanku, kamu juga bisa menjadi sesorang yang tak pernah mempunyai waktu bagi orang-orang yang kamu cintai. Kamu bisa menjadi malaikat dengan senyuman yang tak pernah pudar, kamu juga bisa menjadi monster dengan dua tanduk di kepala. Kamu juga sadar jika kamu tidak selalu bisa menjadi orang baik. Kamu bisa menjadi awal harapan kecilku, kamu bisa menjadi alam-semesta rahasiaku yang menyenangkan dan membawa rasa nyaman. Selalu ada sesuatu yang tersimpan, mungkin hal-hal kecil, darimu sehingga aku ingin menyampaikannya padamu.
Cuaca hari ini bagus. Sudah tidak hujan. Waktu yang baik untuk menata hati, untuk bangkit berdiri. Karena itulah bersama selalu lebih baik dari sendirian, agar kamu bisa menjadi payung tahan air ketika hujanku mampir dan aku bisa membantumu berjalan ketika angin yang kencang berhembus datang.
Dan sering-seringlah tersenyum karena senyummu adalah hadiah Tuhan untuk setiap orang yang kamu temui hari ini.
...
Mau bertemu denganku, sahabatku?
Ketika Aku Mengatakan Aku Mencintaimu
Aku bahagia.
Klise
Aku terbangun ketika hawa dingin itu menelusup. Pagi di hari bintang. Sejuk, seperti kamu, sahabatku. Aku minum seteguk air mineral. Haus. Katanya segelas air putih saat bangun tidur baik untuk kesehatan. Mengingatkanku untuk sekedar berolahraga. Tapi mungkin kapan-kapan saja.
Aku mulai membaca. Beberapa buku. Lalu pesan singkatmu datang. Aku tersenyum. Tiba-tiba aku ingin menjumpaimu.
Ah, sahabatku, menyenangkan melihatmu di awal bulan ini. Perjumpaan-perjumpaan yang membuatku semakin menyukai hidup.
"Btw, kamu gila fir!!"
Ya kamu juga.
Meski pada akhirnya klise itu datang juga. Aku mesti bercerita tentang sesuatu yang membuatku nyaman, tentang hal-hal remeh, tentang aku sendiri, atau tentang apa saja, menumpuk senyum dan keluh, padamu, yang mungkin lebih peduli pada ketakutanku. Dan mungkin kamu juga akan berkisah tentang kecemasanmu, tentang sesuatu yang membuatmu merasa lebih baik atau apa saja. Lalu kita tertawa. Entah. Mentertawakan diri kita sendiri mungkin. Atau tersenyum setidaknya. Aku ingin segera menjumpaimu.
Ya, pada akhirnya klise itu datang juga. Dan aku seolah tak pernah bisa bosan dengan itu semua. Pagi ini aku terbangun di atas tempat tidur. Dengan senyum di wajahku. Dan aku ingin menjumpaimu, seorang yang aku sayangi, sahabat yang menjadi angin di bawah sayapku.
Mula | Sebelum | ... 3 4 5 ... 8 9 10 11 12 13 14 ... 17 18 19 ... | Berikutnya | Akhir

