Bahu Kecilmu
"Kamu butuh pelukan?" Kamu bertanya padaku. Mungkin setelah mendengar berjuta keluhku, atau setelah melihat bibirku gemetar, atau setelah merasakan sesak di dadaku, atau mungkin kamu memang memahamiku dalam kata-kata yang tidak sempat terucap olehku.
Aku ingin kamu ada di dekatku ketika aku melompat bahagia, aku juga ingin kamu ada di dekatku saat aku jatuh terpelanting, hancur berkeping, agar aku bisa segera mencarimu dan menghambur dalam pelukanmu; yang akan menyembunyikanku dari amukan hujan badai dari orang-orang terdekat, kemarahan angin dingin opini publik atau hanya dari ketakutanku sendiri tentang sepi.
Aku mengangguk. Lalu kamu memelukku. Bahu kecilmu begitu kuat ketika kamu mengangkat semua beban yang kupindahkan dan semua sesak yang kutumpahkan padamu. Aku hampir menangis, tenggorokanku kering, sesekali merasakan tanganmu mengusap punggungku, aku menciumi rasa sayangmu.
Kamu tahu, sahabatku? Bagiku, bahu kecilmu adalah tempat paling nyaman di dunia.
Kapan Kamu Membeli Sebuah Jam Weker?
"Bangunkan aku nanti jika kamu terjaga lebih dulu," pesanmu tengah malam, padaku yang sudah terlelap di negeri jauh, jauh dari tempatmu melihat bulan setengah dan bintang yang selalu berada di dekatnya. Selalu ada yang terselip dalam tiap kata-katamu. Barangkali rasa sayang. Atau cinta yang enggan memudar.
Mungkin begitu juga pada tiap detik yang mengingatkanku padamu. Waktu yang tak pernah bisa kuhentikan saat kamu dekat membuatku ingin memiliki semua waktu agar aku bisa bersamamu sedikit lebih lama. "Pagi yang cantik," gumamku pada tirai biru yang sudah kusam, pada dingin yang menyelinap kedalam selimut dan pada jendela yang sedikit terbuka. Lalu angin dari barat datang membawa wajahmu dengan mata yang masih terpejam. "Bangun, sahabatku," bisikku padamu. Dan ada yang sesuatu yang membuatku merasa sangat nyaman.
Barangkali ketika aku sadar aku tidak bisa berhenti mencintaimu.
Selamat Pagi
Aku memutar Bad Day dari Daniel Powter. Aku suka entah kenapa. Padahal aku sendiri jarang menganggap hariku buruk. Mungkin musiknya memang bagus. Dan hari ini bukanlah hari yang jelek. Setelah sebelas hari menderita demam tigapuluh delapan derajat celcius, pagi ini aku merasa sangat sehat. Terimakasih untuk satu hari lagi yang Kamu berikan, Tuhan. Selamat pagi Tuhan.
Aku melihat langit biru dari sini, ada burung alap-alap yang bersliweran, bau pantai, laut yang tertutup tembok perumahan, tapi aku masih bisa merasakan udara segarnya dan ah, Ibu menutup pintu dan mulai menyalakan TV. Selamat pagi Ibunda.
Aku sebenarnya sudah mengirim pesan pendek untukmu, pagi tadi. Sekedar menyapamu. Membangunkanmu, siapa tahu kamu belum terjaga. Mengajakmu melakukan sesuatu bersama. Tapi sampai sekarang pesan itu belum sampai juga. Jaringan yang sibuk? Mungkin saja. Aku masih suka dengan teorimu tentang dua kursi dengan meja kecil di sudut itu. Aku jadi kangen. Pesan pendek norakmu semakin membuatmu terlihat menggemaskan dibanding menyebalkan. Atau jangan-jangan itu memang strategimu agar aku semakin menyukaimu? Ah, kamu berhasil sahabatku. Aku semakin mencintaimu setiap harinya jika kamu tahu.
Selamat pagi sahabatku. Sahabat seumur hidupku.
Mungkin Kita Memang Seperti Bumi
Tak sadar mimpi-mimpi itu dibangun diatas kita,
pun berjuta harapan yang digantungkan.
Dan seringkali lupa jika kita begitu rapuh.
Lalu bangunan-bangunan itu runtuh...
Untuk Semua Sahabat
All dearest friends,
Thanks a lot for your concern when we, Tom and I, were in Yogya. Sorry if in that time I cant reply all your text as soon as I wanted since it was pretty busy there. We went to see my friends there to check how was things with their homes and family, some of their family was injured and their houses was flat to the ground. We were arranging some aid in that time since until Sunday evening there was no aid from government reached them yet. Only aids from society around that collected independently was able to reach them. We were manage to collect some money on Saturday and planned to buy them some food, medication, clean water, and blankets but the stores mostly was still closed or damage so it wasn't much stock to buy.
Mula | Sebelum | ... 3 4 5 ... 8 9 10 11 12 13 14 ... 17 18 19 ... | Berikutnya | Akhir

