Firman Maulana Personal Journal

 

Bukan Blogger yang Baik

Saya sebenarnya bukan penulis jurnal maya yang baik. Tak apa kan? Saya hanya ingin menghiasi hidup kalian. Tidak semua penulis jurnal maya itu mengikuti etika. Saya contohnya. Tulisan-tulisan saya jarang menyentuh kejadian yang sedang menjadi trend dalam dunia nyata. Jurnal biasanya mengulas hal-hal semacam itu, bukan begitu? Tidak ada tulisan tentang selamat datang Ramadhan atau Idul Fitri. Tidak ada tulisan tentang perang Libanon, kabut asap Balikpapan (hai Tung) dan Sumatera Selatan atau bahkan lumpur Sidoarjo. Saya jadi ingat ketika saya berkenalan dengan seorang sahabat.

"Punya blog?" Tanyanya.
"Ya, di kakilangit," jawab saya. "Tapi saya hampir tidak pernah menulis tentang teknologi di blog saya," padahal waktu itu saya sedang merampungkan kuliah Ilmu Komputer, hahaha (ingat Nick?).

Saya juga tidak selalu menulis tentang kejadian-kejadian besar yang terjadi dalam hidup saya apalagi hal-hal remeh. Seperti waktu saya berhasil menghadiri upacara wisuda saya di Grha Sabha Pramana atau perjalanan mengunjungi adik saya yang juga menjadi sarjana di Unair beberapa saat setelahnya. Tentang ulang tahun. Tentang perjalanan membelah pulau Jawa. Pun kisah kehidupan para sahabat yang menyentuh saya; pernikahan, kelahiran dan kematian. Bahkan saya tidak becus berkomentar pada blog teman-teman; kalian atau sekedar kenalan yang meninggalkan alamat uri pada situs saya. Tidak jarang saya cuma mengunjunginya dan membaca tulisan-tulisan kalian. Jangan berhenti menulis yah, meski saya tidak meninggalkan jejak pada shoutbox atau kotak komentar kalian.

Dan bukannya saya malas menulis, saya menulis jika saya ingin menulis dan jika sempat! Tapi saya suka membaca. Membaca tulisan-tulisan kalian. Iya, jadi saya itu penikmat tulisan-tulisan kalian. Pembaca kisah hidup kalian.

Rumah

Kamu pasti tahu kerinduanku pada rumah, sahabatku.

Kamu ingat saat kita mendengar lagu Love Will Be Our Home di sebuah gedung di kebayoran baru? Kita terdiam. Mungkin karena suara paduan suara itu bagus. Bisa jadi karena kita mendengarnya di gedung itu. Tapi kita terdiam. Lagu yang indah. Aku mencarinya pada pustaka iTunes di laptopmu begitu sampai di kamar kos dan menemukan lagu itu dengan nama Sandi Patti pada kolom artisnya.

Kamu pasti tahu kerinduanku pada rumah, sahabatku.

Tempat berteduh. Tempat melepas penat. Tempat menumpahkan senyum. Tempat meletakkan topeng. Tempat rasa aman berada. Tempat kembali para avonturir yang telah lelah melangkah. Tempat pulang. Muara kerinduan akan sebuah kenyamanan.

Dan aku akan pulang sahabatku. Pulang ke hatimu... rumah terindah. Pasti.

Windproof

Aku berhenti di depan Parsley, salah satu toko roti di sekitaran jalan Kaliurang. Aku suka roti bawangnya, garlich bread, selain buatan Pizza Hut. Hap, aku mengambil satu roti bawang dan satu roti moccachino untuk bekal perjalanan di kereta.

Masih tigapuluh delapan ribu rupiah; harga tiket kereta ekonomi menuju kotamu, mmm bukan, bukan kotamu, tapi kota dimana kamu berada, sahabatku. Dan calo-calo tiket Lempuyangan masih saja menyesatkan para calon penumpang yang takut kehabisan tiket maupun tempat duduk.

Berinteraksi, membagi cerita dan senyum, singgah sebentar di ingatan tiap-tiap manusia yang kita temui atau hanya berbasa-basi; di kereta api kelas ekonomi yang terkadang kejam tapi tidak jarang sangat ramah. Dalam hitungan menit sebelum jam pemberangkatan aku sudah berakrab-akrab dengan dua orang pemuda dan seorang nenek perokok yang sangat merindukan cucu pertamanya.

Cerita dan tawa. Mungkin saja karena Yogya begitu ramah, sahabatku. Hampir semua yang berasal dari kota ini bisa membagi senyumnya, seperti aku dan kamu juga tentunya. Dari cerita tentang mahasiswa baru yang tidak direstui orangtuanya kuliah di kehutanan sampai pengalaman kecurian di kereta. Ah, aku jadi ingat tentang stasiun Tanah Abang sebulan yang lalu, waktu itu aku juga hanya ingin bertemu denganmu saja sama seperti saat ini, ditempel empat orang bertubuh gempal yang selalu mendorong-dorong tubuh kurusku dan sebuah tangan yang aktif menggerayangi saku celanaku. Aku hampir kecopetan. Hampir. KRL berangkat dan mereka tidak berhasil mengambil ponsel bututku. Wajar. Aku saja susah mengambil apapun itu dari saku celanaku. Sempit. Aku tidak suka stasiun Tanah Abang.

Pasar Senen jam tiga pagi bersama seorang teman yang masih tersisa. Kamu pasti belum bangun dan bus nomor duapuluh juga masih sepi. Aku menunggu semburat fajar muncul sembari duduk di kursi stasiun. Stasiun yang tidak pernah tidur, orang-orang yang bergegas, waktu yang selalu mengejar. Lalu aku tertidur berbantalkan backpack.

tulisan lengkapnya

Let Me Sing A Song For You

Aku akan bernyanyi untukmu. Ketika pagi datang dan cemas itu mampir; tentang dedaunan yang mungkin mengering, tentang perasaan yang mungkin memudar, tentang hati yang mungkin tersakiti. Biarkan aku menyanyikan sebuah lagu untukmu sahabatku. Lagu tentang sebuah cerita yang baru saja kita mulai. Lagu tentang perasaan yang bertemu di sudut hati. Mungkin cinta tidak sepesimis cemasmu. Barangkali ia seperti embun yang selalu ada dan datang di setiap pagi ketika pertama mata kita terbuka, basahi daun-daun, bunga-bunga dan rerumputan; menjaga mereka agar tidak kering dan layu.

Aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu sahabatku sayang. Saat pagi datang bersama senyummu. Saat kamu tak lagi risau. Lagu tentang langkah-langkah kecil, tentang perjalanan, tentang kenyamanan. Lagu tentang hidup, bulan dan bintang. Lagu tentang rindu, pulang dan rumah. Oh ya, dan tentu saja lagu tentang hatimu.

Mendekatlah padaku; aku akan bernyanyi untukmu sayangku.

Sebentuk Bulan

sebentuk bulanKuletakkan sebentuk bulan
dalam hatiku.
Dan setiap degup
menjelma kenyamanan.

Mula | Sebelum | 1 2 3 4 5 6 7 ... 10 11 12 ... | Berikutnya | Akhir

saya
laki-laki dua puluh enam tahun; tinggal di yogyakarta, indonesia, menikmati setiap detik hidupnya dan bla bla bla...

del.icio.us

pengumpan

Dutahost
jurnal firman maulana 2003–2008