Hoping for a Hope
Saya memandang dunia begitu indah dan hidup akan selalu mudah; itu terjadi pada masa kanak-kanak saya. Saya pernah punya impian menjadi seorang pilot pesawat komersial, masinis kereta-api uap kuno, dokter anak, astronom, menteri riset dan teknologi atau bahkan menjadi seorang presiden di suatu republik. Pekerjaan mulia pikir saya. Itulah semua pekerjaan didunia. Pastilah sesuatu yang besar yang dapat membuat semua orang tersenyum. Dan dunia akan membuka jalan untuk cita-cita saya. Saya pikir seperti itu.
Sayangnya saya kecil tidak pernah menyangka bahwa tukang sayur juga sebuah pekerjaan, tukang sapu jalan protokol, penjual gulali di depan sekolah dasar, paranormal, sopir truk, pengamen, pengemis, maling, bahkan pelacur. Tidak pernah tahu jika beberapa menggadai kehormatan sebagai manusia demi hidup mereka. Menjadi antagonis dalam semua norma dan kitab suci. Dan beberapa lagi berjuang untuk hidup dengan cara yang berbeda. Mereka yang menolak melumat harga diri, dan sikap kepada Tuhan dan kehidupan. Mereka yang tahu bahwa hidup bukanlah untuk mengeluh. Mereka semua menikmati hidup dengan caranya masing-masing. Saya juga menikmati hidup... dan saya sadar hidup tidaklah mudah.
Dan saya kecil tak pernah menyangka jika ada yang begitu membenci hidup. Tidak jarang mereka adalah orang-orang terdekat. Iya, mungkin mereka membenci hidup karena tidak kuat merasakan bagaimana sakitnya gagal itu, mungkin juga karena mereka dilahirkan tidak dengan kondisi fisik yang normal, atau karena usia mereka menjadi begitu singkat karena sebuah penyakit. Mereka membenci hidup karena kehilangan harapan. Bagi mereka pengharapan mungkin hanya omong-kosong manusia dengan nasib yang lebih baik dari mereka.
Saya jadi berandai-andai jika saja setiap kita menjadi sahabat bagi mereka yang mengharapkan sebuah harapan, sekedar berempati, membagi kasih. Bahwa selalu ada pengharapan ketika mencarinya pada Sang Pengharapan itu sendiri. Penderita HIV/AIDS, penyandang cacat dan penderita penyakit mematikan lainnya bukanlah kutukan, tidak ada yang berhak memadamkan lilin harapan seseorang yang hamil diluar nikah, begitu juga dengan bekas penjahat; mereka bukan untuk diasingkan. Karena ini bukan tentang dosa dan pahala, bukan juga tentang surga dan neraka. Kalian, saya, setidaknya bisa membuat dunia menjadi tempat tinggal yang lebih baik.
Tidak ada yang salah jika memulainya dari sekarang, untuk berbagi lilin harapan pada mereka yang mulai redup; bulan dengan hari AIDS sedunia, yang bukan saja hanya untuk mengenang mereka yang meninggal karena HIV/AIDS tapi juga untuk memberi dukungan pada mereka untuk tetap hidup; ada akhir tahun, yang memberi ruang privat untuk sekedar berkontemplasi, yang menawarkan harapan baru pada lembaran tahun yang baru; dan oia, tentu saja... ada Natal.
Sepotong Percakapan di Suatu Malam
"Kamu nyanyi buatku dong fir," suara cempreng di suatu tempat yang jauhnya ratusan kilometer dari tempat tidurku. Kamu merajuk.
"Heh? Nggak ah. Dah malem tau, nanti semuanya bangun."
"Ayolah, aku suka saat kamu menyanyi untukku."
"Ah, kamu sih suka apa saja yang kulakukan untukmu. Suaraku jelek. Kamu saja yang menyanyi untukku, bagaimana?"
"Suaraku lebih jelek, kamu saja."
"Huu...," aku diam sesaat dua. Lalu mulai mencoba menempatkan not-not yang keluar dari mulutku pada tangga nada yang sesuai. "I like the feel of your name on my..."
"Eh, tunggu! Tunggu! Gak kedengeran nih, kamu nyanyi kayak bergumam gitu. Dah tau kualitas pendengaranku jelek. Diulang dong, tapi yang jelas ya," katamu menginterupsi nada-nada fals yang lirih itu. Tidak sopan!
Baiklah. Aku akan bernyanyi untukmu. Literal. Aku benar-benar akan bernyanyi untukmu. Aku suka melakukannya. Sungguh. Lalu lirik I love the way you love me mulai keluar dari pita suaraku. Kamu terdiam, mungkin tertidur.
"Terimakasih. Aku suka." Kamu terdengar begitu gembira saat aku selesai bernyanyi. Ah, aku juga ikut senang.
"I love the way you love me."
"Hehehe. Me too," kamu tertawa. "Mmm, ada lirik yang gak begitu jelas kudengar tadi. Bisa kamu membacakan liriknya untukku?"
"Enggg. My pronunciation is awful, you know it. Aku terjemahkan saja ya? Tapi aku akan mengartikannya semauku saja." Tawarku sekenanya.
Empat Puluh Tujuh
Selamat mengulang tahun, ibu.
Semoga ibunda tetap menjadi
pagi dimana embun dan matari
iringi semangat pembuka hari;
bagi hidup kami.
Semoga ibunda tetap menjadi
guru; seperti gurat sungai
yang makin jelas itu,
sungai di sudut mata ibu...
yang selalu ajari ananda
tentang sabar, kasih dan syukur.
Sayang dan cinta dari ananda
yang masih terus mencoba
membuat senyum di wajah ibu.
Aku Jatuh Hati
Aku jatuh hati padamu; perempuan dengan senyum yang tak pernah pudar.
Aku menyukaimu. Tidak pada sapa saat kita baru bertemu. Tidak juga ketika mata kita saling bertatapan untuk kali pertama. Tapi waktu kita mulai mencoba merangkai kata saat berbagi kisah tentang hidup. Saat perjumpaan-perjumpaan itulah aku mulai menumpuk kasih. Aku benar-benar menyukaimu. Lesung pipimu yang muncul ketika kamu tersenyum. Celotehanmu yang tak jarang tidak kamu pikirkan dulu. Narsismu yang muncul saat mematut diri di depan cermin, kaca etalase bahkan kaca mobil. Semua kerja kerasmu untuk keluarga dan impianmu. Perempuan yang kuat. Iya, manusia kuat tidak melahirkan manusia kuat juga, manusia menjadi kuat karena hidup dan semua kisah yang mengikutinya dan orang-orang yang mendukungnya tentu saja. Tapi aku rasa sifat itu diturunkan dari orangtuamu, dari cara mereka mendidikmu. Lalu oia, sikap kontra kamu terhadap media yang membentuk citra bagaimana fisik perempuan seharusnya dengan seenaknya. Padahal kulit kamu putih, rambut kamu bisa panjang dan lurus dan kamu cantik. Ya, kamu sering berandai-andai jika kamu dilahirkan tidak dengan rupa seperti sekarang (dan rasanya aku akan tetap jatuh hati padamu sayang) untuk membuktikan bahwa semua perempuan itu cantik. Karena cantik itu bukan masalah fisik.
Aku jatuh cinta padamu di enambelas jam yang menakjubkan itu. Telingamu yang setia mendengar keluh kesah dan bahagiaku, meski sesekali kamu menyela ceritaku. Lalu kamu mengambil sebentuk bulan dan meletakkannya pada suatu sudut di dalam hatiku.
Aku mencintaimu; perempuan dengan senyum yang selalu membawa rasa nyaman. Semakin dalam setiap saatnya. Ada syukur yang amat mudah terucap kepada Pemberi Kasih saat pertama mata terbuka. Aku senang ketika mendengar cerocosan suaramu di seberang sana ketika aku membangunkanmu di pagi-pagimu. Aku suka saat kita memasukkan syukur, harap dan hidup kedalam doa kita; syukur tentang satu hari lagi yang diberikan oleh Pemilik Waktu, tentang apa saja yang sudah, sedang dan akan terjadi, tentang nikmat, kasih dan karunia, harapan tentang keluarga, hidup, hati, aku, kamu, kita dan masa depan.
Aku menikmati saat-saat bersamamu sayang. Menghabiskan berjam-jam untuk mengobrol, bercerita dan berbagi tanpa merasa bosan. Menjadi diri sendiri atau bahkan berubah tanpa mengekang ruang gerak dan karakter masing-masing. Mengimbangi jalanmu yang cepat dengan sedikit berlari-lari kecil jika sudah tertinggal cukup jauh untuk mendengar celotehanmu. Sesekali mencuri kecupan. Atau ketika aku bisa mengatakan apa saja kepadamu. Saat aku bisa membagi semua kepadamu, ya, semuanya, karena kamu begitu nyaman. Bahwa hubungan antar manusia tidak harus melulu tentang proses kompromi. Bahwa ada yang disebut harmoni, selaras, ketika seseorang menemukan nyamannya. Seseorang yang membuatnya merasa komplit, seseorang yang bisa mengimbanginya. Karena Pembuat Hidup menciptakan pasangan yang sepadan untuk setiap manusia yang Ia buat.
Dan aku yakin Dia tersenyum ketika menciptakanmu, kamu... kenyamananku.
Mula | Sebelum | 1 2 3 4 5 6 7 ... 10 11 12 ... | Berikutnya | Akhir

