Firman Maulana Personal Journal

 

Pesan Pendek

Cinta sebenarnya bukan "ini salahmu", tapi "aku mengerti";
bukan "dimana kamu?" Tapi "aku ada disini";
bukan juga "seandainya kamu disini", tapi "aku bersyukur, I'm thankful that you are"

Aku tahu kamu mengutipnya, entah dari mana, tapi terimakasih telah memberitahuku, mengingatkanku tanpa menggurui.

I'm thankful that you are.

Menjadi Tua

Saat ini; tersenyumlah. Karena masih banyak mimpi-mimpi yang menanti untuk diwujudkan. Pun peristiwa-peristiwa yang akan membuat hidup makin bermakna.

Menjadi tua itu tidak jelek, sahabatku.

Jalur Empat

"Pak, nanti saya turun di Pamela satu," kata seorang penumpang yang duduk di belakang supir bus kota jalur empat, seorang lelaki yang menggendong anaknya.
"Ya pak," jawab supir itu.

Sebuah keluarga pikirku. Sementara suaminya menggendong anak duduk dekat jendela, istrinya terus menyerocos tentang dimana mereka berhenti, tentang ini itu, seru sekali. Aku memperhatikannya. Aku berada dua baris dibelakang mereka. Semilir angin yang masuk membuat lelahku menjadi kantuk. Sambil mendekap backpack, aku bersandar pada jendela bus.

"Pamela satu ya pak," penumpang itu mengulang permintaannya pada kondektur ketika menarik ongkos.
"Iya pak," kondektur itu menjawab dengan sedikit empati. Entah.
"Pamela satu itu yang biasanya kan?" Tanya supir bus pada kondekturnya. Mungkin sekedar meyakinkan jika dia tidak salah.
"Hooh."

Pamela adalah sebuah toko swalayan yang memiliki banyak cabang yang menjadikan pemiliknya menamai cabangnya dengan imbuhan nomor di belakangnya. Pamela satu mungkin merupakan toko pertamanya yang setahuku ada di bilangan Kusumanegara.

"Kalau sudah sampai Pamela satu berhenti ya pak," sekali lagi dia mengulangi permintaannya. Kali ini pada supir di depannya. Mungkin takut jika terlewat. Dan sesaat aku mulai terganggu.
"Belum kok pak," sekali lagi supir itu menjawab. Tidak kasar meskipun suaranya cukup keras. Entah. Tidak seperti biasanya.

Sudah Gedongkuning sebentar lagi Gembiraloka, SGM dan Pamela satu.

"Sudah Pamela satu pak?" Kali ini yang bertanya adalah si istri yang dari tadi tidak bisa diam.
"Oh sebentar lagi bu."

Ah, keluarga ini ribut sekali. Toh nanti saat bus ini melewati Pamela mereka akan tahu juga. Jika tak salah, semua toko pasti memberi tanda cukup besar yang bisa terbaca untuk tokonya. Sesaat aku terganggu.

"Pamela, kiri!" Teriak kondektur sambil mengetuk-ngetuk kaca bus dengan sebuah kunci.

Lalu bus kota jalur empat ini berhenti. Sesaat ketika rombongan keluarga kecil ini mulai turun aku tersentak. Aku malu. Pertama yang kulihat adalah seorang perempuan muda dengan badan yang agak berisi yang tidak memiliki mata sempurna. Dan kondektur itu membimbingnya keluar.

Lalu lelaki penggendong anak yang mungkin berumur sekitar satu tahun mulai berbalik dan turun dari bus. Dia mengeluarkan tongkatnya. Ah, mereka berdua buta. Pantas saja mereka takut jika Pamela satu terlewat. Lalu supir serta kondektur itu sama sekali tidak menganggap mereka sebagai beban. Mereka berdua tidak bisa melihat! Sementara warna-warni dunia bisa kutangkap dengan mataku; hatiku terus saja mengeluh.

Aku malu dengan perasaanku sendiri. Lagi-lagi aku tidak bisa mensyukuri hidup. Terganggu? Dunia tidak hanya diisi oleh manusia-manusia lelah yang tidak ingin istirahatnya terganggu. Dunia juga diisi oleh orang-orang bergegas, beberapa orang-orang baik dan manusia-manusia kuat; seperti mereka berdua. Dan saat itu dunia sepertinya kehilangan satu manusia pengeluh. Semoga.

Dan aku terus memperhatikan keluarga kecil itu sampai pandangan anak dalam gendongan lelaki buta itu melihat kearahku. Matanya bulat. Jernih sekali. Dia tertawa. Aku tersenyum. Terimakasih.

Ouch!

The Beatles - Love Album Ouch! Ini adalah cinta terbaru dari The Beatles. Menggigit, lezat dan sangat segar. Awalnya adalah kreatifitas Sir George Martin dan anaknya, Giles mencampuradukkan not demi not dari semua arsip lagu The Beatles yang diperolehnya langsung dari rekaman master dari studio Abbey Road dengan bermacam-macam suara dan teknik. Hasilnya... lagu The Beatles yang belum pernah terdengar sebelumnya tanpa meninggalkan ciri The Beatles itu sendiri.

Hmmm, delicious and fresh, seperti cappuccino panas di pagi hari dengan remah coklat diatasnya.

Mula | Sebelum | 1 2 3 4 5 6 7 ... 10 11 12 ... | Berikutnya | Akhir

saya
laki-laki dua puluh enam tahun; tinggal di yogyakarta, indonesia, menikmati setiap detik hidupnya dan bla bla bla...

del.icio.us

pengumpan

Dutahost
jurnal firman maulana 2003–2008