GMT+8
Sudah malam, sahabatku. Aku masih memeluk sebongkah cinta ditemani debur ombak, pasir putih dan angin laut; sebongkah cinta yang kamu kirimkan padaku pagi tadi; yang tak habis hingga aku memejamkan mata. Bongkahan cinta yang tak bisa berkurang; katamu.
Bongkahan cinta yang tak juga kurangi rinduku padamu...
Kuta, 8 Oktober 2007
Juanda
"Maaf," laki-laki di sebuah lobby hotel di depan terminal Bungurasih itu berkata dengan cukup sopan, "jika hanya memesan satu kamar, alamat di KTPnya harus harus sama."
"Ok, nggak apa-apa," tak kalah sopan kamu membalasnya.
Surabaya, pukul sebelas malam, sudah larut. Pulang ke Malang adalah pilihan yang tidak bijak. Selain mengantuk, badan kami juga lelah. Kami lalu memutuskan untuk mencari tempat untuk merebahkan badan sesaat-dua. Lalu pagi-pagi sekali baru melanjutkan perjalanan. Itu rencananya.
"Gimana?" Tanyaku padamu, "kayaknya semua penginapan di sini peraturannya emang gitu."
"Ya, kita cari aja dulu," jawabmu.
"Hmm, kamu saja yang pake kamarnya, aku bisa tidur di lobby atau di mobil..."
"Nggak ah," kamu berkeras.
Malam semakin dalam. Waktu berjalan terus seiring kami yang meletih. Kami berjalan tidak terlalu cepat sembari melihat ke samping kanan maupun kiri memindai sekeliling. Kami lalu berbelok ke timur. Ke arah Juanda. Biasanya banyak penginapan di dekat terminal ataupun bandara.
Saat Semburat Lembayung Datang
Hari beranjak sore. Jalanan sempit yang berkelak-kelok dan penuh lubang itu mulai sepi. Sudah hampir dua setengah jam sejak kita memutuskan untuk melakukan perjalanan ini tapi sejauh pandangan mata vegetasi tumbuhan belum juga berubah. Sempat berpikir mungkin saja waktu kita tidak tepat setelah berulangkali berpapasan dengan kendaraan dari arah yang berlawanan. Dan kamu cuma tersenyum.
Langit dengan kemahaluasannya tampak serupa raksasa diam ketika kamu melaju di tengah hamparan hijau sawah dan rimbun ilalang yang selalu saja menjadi sesuatu yang menyejukkan hati.
Kamu masih berceloteh tentang ini dan itu. Sesekali melongo kagum melihat alam atau bergaya berkonsentrasi penuh pada tanjakan dan tikungan yang sedikit sulit. Lalu kamu tersenyum lagi. Ah, jika hidup seumpama perjalanan yang maha panjang, niscaya perhentian-perhentian sejenak sebelum akhir akan menjadi saat-saat membagi senyum dan melepas lelah dan bukan untuk berkeluh-kesah, mungkin itu yang ingin disampaikan senyummu padaku.
Kamupun berteriak kegirangan ketika melihat loket tiket masuk khas obyek wisata beberapa puluh meter di depan. Lebih tampak seperti gerbang hutan lindung daripada sebuah pantai bagiku saat melihat rimbunnya pepohonan dan pekatnya hijau dedaunan yang menutupi sinar matahari. Aku lalu membuka kaca jendela; menunggu angin selatan yang membawa bau laut.
Monolog Sungai
Mungkin memang aku lahir dari air. Air suci dari bejana Brahma. Air yang digunakan untuk membasuh kaki Wisnu. Dari air kembali menjadi air. Aku turun dari nirwana untuk menjadi sungai. Sungai yang akan menyucikan enampuluhribu jiwa anak-anak Sagara. Airku yang bisa mengembalikan jiwa-jiwa ke nirwana.
Mungkin memang aku dilahirkan sedemikian cantiknya, sehingga dapat membuat Shantanu terpikat. Dia memintaku menjadi istrinya. Ah, raja Hastinapura itu benar-benar tergila-gila padaku. Aku mengiyakannya hanya dengan satu syarat; Jangan pernah mengajukan satu pertanyaanpun pada semua yang aku kerjakan!
Dan dia setuju.
Mungkin aku adalah ibu paling kejam di dunia. Aku hamil. Anakku. Anak Shantanu. Ia lahir. Aku menggendongnya menuju sungai dimana pertama Shantanu melihatku. Lalu aku membuang anakku. Iya, aku membuang darah dagingku sendiri ke dalam sungai. Setelah itu aku kembali ke istana dan tersenyum ketika bertemu dengan suamiku, Shantanu.
Dia hanya diam. Dia telah berjanji untuk tidak menanyakan apapun yang kukerjakan. Dan dia menepatinya dalam sorot mata penuh kesedihan dan kebingungan. Ah, Shantanu, Shantanu...
Demikian juga dengan anakku yang kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh... Aku membuang mereka semua ke sungai. Shantanu hanya menangis penuh kepedihan.
Ah, aku mengandung lagi. Anak kedelapan kami. Seperti biasa aku akan membawanya menuju sungai, lalu membuangnya begitu saja. Ya, seperti biasa. Aku mulai berjalan. Menggendong seorang bayi.
"Hentikan!"
Aku menoleh ke belakang. Aku tahu itu adalah suara suamiku, Shantanu.
"Aku tidak tahan dengan kelakuanmu! Kau selalu membuang bayi-bayi yang keluar dari rahimmu sendiri," aku melihat seorang Shantanu yang tidak bisa menahan dirinya untuk marah. "Kenapa kau lakukan ini semua?"
Dan ia melanggar janjinya sendiri.
Aku tersenyum.
"Kau telah melanggar janjimu sendiri, Shantanu. Sudah saatnya aku pergi. Aku akan membawa anak kedelapan ini dan membesarkannya," ya, setelah kau menelan kembali sumpahmu, aku harus kembali Shantanu. "Aku akan mengembalikannya padamu jika tiba waktunya."
"Tttunggu! Siapa kamu sebenarnya?!?!"
"Aku adalah ibu dari anak ini," dan anak ini akan kunamakan Bhisma, Shantanu. "Aku adalah dewi sungai. Namaku Gangga."
Mungkin aku adalah ibu paling kejam. Dan aku melahirkan Bhisma; manusia terluhur yang pernah ada.
Monolog Sungai adalah lakon Teater Garasi pada 5-6 April 2007
Menikmati Kematian
Menikmati semua hal yang terjadi dalam hidup menjadi sangat mudah jika mereka membuatmu tersenyum. Tapi tentunya tidak jika membuatmu menangis. Atau Jika menyenangkan, dan bukan menyusahkan. Padahal manusia tak dapat memilih selalu tersenyum tanpa menangis. Tak mungkin untuk terus-terusan berada di sisi yang menyenangkan. Iya, di semua kisah kehidupan manusia yang pernah ditulis, dongeng tentang peri maupun cerita dalam kitab suci, kehidupan tidak pernah digambarkan semulus itu. Tapi setidaknya kita bisa memilih untuk menikmatinya, seburuk apapun keadaannya.
Tidak seperti beberapa hal dalam hidup yang tak dapat kamu lakukan sendiri; kematian menjadi sesuatu yang mustahil untuk dinikmati. Pun berbeda dengan kelahiran maupun pernikahan yang memberi nafas pada kehidupan, kematian mengambilnya. Kematian biasanya disimbolkan dengan duka, hitam dan air mata. Sekilas tak ada keindahan disana. Atau memang benar-benar tidak ada.
Menikmati sesuatu akhirnya menjadi sangat subyektif. Menikmati kematian tidak sama dengan menikmati sebuah kelahiran, lagu yang bagus, biru langit, pertunjukan seni, bau tanah basah, hujan, pantai, maupun senyum para sahabat. Kant menyebutnya sublim. Perasaan yang hadir ketika mendengar guntur, amuk badai, malam yang pekat maupun kematian itu sendiri.
Ketika manusia hanya bisa pasrah, menangis, kehilangan, menyesal, maupun mengingatnya saat masih hidup, orang yang baikkah? Menjadi berkat bagi sesamakah? Atau melihat banyaknya karangan bunga di depan rumah duka. Menyadari begitu kecilnya manusia di hadapan kematian. Ya, menikmati hal-hal semacam itu.
Beberapa orang mati muda. Di hidupnya yang singkat beberapa sudah melakukan hal-hal menakjubkan, menikmati hidupnya, menghargai betapa berharganya waktu. Beberapa lainnya hanya mampir untuk sekedar bernafas sejenak. Ironis. Aku sering merasa akan mati di usia muda. Menjadi bintang jatuh. Menjadi komet bagi hidup orang-orang di sekitarku.
Bagiku menikmati kematian tidak pernah mudah. Itu selalu menjadi sebuah kontemplasi tentang betapa berharganya kehidupan, waktu dan sahabat. Kontemplasi tentang keabadian. Manusia yang bisa hidup selamanya di suatu sudut dalam hati orang-orang yang pernah bersentuhan hidup dengannya.
Mula | Sebelum | 1 2 3 4 5 6 7 ... 10 11 12 ... | Berikutnya | Akhir

