Firman Maulana Personal Journal

 

Tidak Usah Jauh-jauh

"Pernah mencoba lari dari masalah fir?" Tiba-tiba kamu mengajukan pertanyaan itu pada saya, setelah cukup lama kamu bercerita tentang hidupmu yang dirasa makin runyam, dengan tatapan yang bisa jadi merupakan gambaran semangat hidupmu dan segala pernak-pernik yang terjadi padamu beberapa tahun belakangan ini, kosong.

Saya menggeleng ragu. Sembari berpikir, pernahkah saya? Belum! Ya, saya belum pernah benar-benar lari dari masalah. Entah karena saya tidak cukup cepat untuk meninggalkannya atau saya memang setegar itu, saya tidak tahu.

"Bunuh diri, aku sering memikirkannya." Sambungmu lagi
"Tapi aku terlalu takut untuk itu fir, bukan takut pada kematian itu sendiri, takut pada yang ada setelah itu..."

tulisan lengkapnya

Garasu No Kamen

"Bahwa kita hidup adalah seperti memakai topeng kaca yang mudah jatuh dan rusak. Kita ingin bermain sebaik-baiknya. Topeng rusak. Wajah kita yang sebenarnya akan tampak. Resiko! Situasi yang menentukan kita untuk terus memakai topeng atau tidak..."

Mungkin itu yang coba disampaikan Rei Aoki pada Maya Kitajima.

Tidak Berminat

"Sungguh aku telah lupa bagaimana caranya tersenyum jika bersamamu"

Aku pernah belajar untuk bisa
Aku pernah bisa
Aku bahkan pernah mengajarimu untuk tersenyum

Tapi sekarang aku tidak berminat untuk belajar lagi...
Belajar untuk bisa tersenyum jika aku bertemu kamu
Tidak sekarang, perempuan dengan mata sayu.

Kamu tidak berhak mengharapkan lebih, dariku.
Aku sudah terlalu letih tersenyum, untukmu.
Sementara kamu sepertinya tidak pernah mau belajar untuk mengerti arti senyuman itu sendiri

Dan kamu tahu sebabnya bukan?

#
tentang perasaanku padamu, seseorang dari masa lalu, yang telah lantak.

Matahari

Siapa? Kamu. Ya kamu, sahabatku, kamu adalah matahari. Sejujurnya aku sendiri tidak mengerti kenapa aku mulai memanggilmu dengan nama matahari.

Sejak aku mengenalmu saat itu, sudah lewat berpuluh purnama, kelopak bunga, embun pagi, laut biru yang dalam dan hujan yang selalu kita rindukan. Aku tidak pernah menyangka akan memanggilmu dengan nama matahari.

Kamu tidak menerangiku, seperti matahari. Kamu bukan matahariku, pun seperti matahari. Kamu gelap bagiku, seharusnya aku memanggilmu gerhana bukan matahari. Kamu adalah sesuatu diruang kosmos, kelihatan tegar tapi rapuh. Ah tidak, lagi-lagi aku salah menilaimu. Maaf. Aku tak mengenalmu sedalam itu. Entah kenapa aku mulai memanggilmu matahari aku tak tahu.

Aku ingin menjadi komet, teriakku suatu ketika, padamu. Sekedar hadir, bersinar paling terang tapi menghilang seketika. Meninggalkan cahaya disudut hati setiap orang yang melihatku. Ya aku ingin menjadi komet, kataku lagi.

Tidak, jawabmu. Ah kamu memang keras kepala. Kamu tidak pernah ingin menjadi komet. Aku tahu itu, karenanya aku memanggilmu matahari. Ah aku bukan matahari, mungkin itu yang ingin kamu katakan padaku. Gombal. Aku semakin ingin memanggilmu dengan nama matahari. Meskipun kamu tidak menerangiku, tidak sedang menerangi siapa-siapa. Karena tata suryamu belum berputar sesuai orbitnya, aku mengerti. Kamu sedang menunggu. Aku akan menemanimu menunggu galaksi gelap yang ingin kamu terangi.

Tidak, sekali lagi kamu menolak. Aku tidak akan menunggunya, aku akan memburunya, teriakmu dalam hati. Aku tahu. Kejarlah bima sakti mu, meskipun melewati andromeda, lubang hitam atau bahkan kembali ke penciptaan alam semesta. Bahwa tempat mu adalah di sana, gugus gelap yang tak bergerak, kamu berhasil meyakinkanku dengan luapan keceriaan dan letupan energi yang kamu tunjukkan padaku setiap kali melihat gugusan gelap itu, kamu memang benar-benar ingin meneranginya bukan?

Matahari, seharusnya aku berpikir dulu sebelum memanggilmu dengan nama ini. Ah tidak, aku sudah memikirkannya jauh sebelum matahari ada. Kamu memang seperti matahari, menjadi sahabat semua makhluk hidup. Aku hidup maka kamu adalah sahabatku, logikanya begitu bukan? Jadi jangan khawatir matahari, aku akan berjalan di sampingmu sebagai sahabat bukan sebagai pembenaran ilmu logika ataupun tiruan albert camus, karena sahabat pun tidak memerlukan alasan.

Sejujurnya aku masih tidak mengerti kenapa aku memanggilmu matahari. Entah karena namamu sebenarnya adalah matahari atau...
karena kamu memang matahari

Teman Lama dan Daging Menjangan

Lupakan hiruk pikuk pemilihan presiden, sidang tahunan MPR atau bahkan kepulangan Sukma Ayu yang seolah memenuhi hari-hari saya akhir-akhir ini. Ada berita yang lebih menarik perhatian saya ; Iir, salah satu teman baik saya, datang ke rumah, tentunya masih berkaitan dengan pernikahannya dengan Asmanta tanggal 11 September kemarin. Dia datang bersama bapak, ibu dan Asmanta, suaminya tentu saja.

"Hai firman" Sapanya manja, seperti anak kecil, seperti biasanya, ketika berusaha mengagetkan saya dengan cara masuk tiba-tiba kedalam kamar saya. Sedikit berhasil Ir. Saya kaget, tepatnya I'm surprised !! Hahaha, dia tampak cantik dengan balutan baju putih dengan sedikit bordir. Ya dia kelihatan cantik, cantik yang berbeda, cantik bahagia.

Di ruang tengah rumah kontrakan, kami semua berkumpul. Sekedar duduk lesehan di atas karpet merah yang lusuh ; Iir, Asmanta, Danar, Hasta, Kiki, Deni, Bapak dan Ibu -orang tua Iir tepatnya dan tentunya saya, saling bertegur sapa dan berbagi senyum. Basa-basi mungkin, tapi kami tidak menganggapnya begitu.

tulisan lengkapnya

Mula | Sebelum | ... 17 18 19 ... 22 23 24 25 26 27 28 ... 30 | Berikutnya | Akhir

saya
laki-laki dua puluh enam tahun; tinggal di yogyakarta, indonesia, menikmati setiap detik hidupnya dan bla bla bla...

del.icio.us

pengumpan

Dutahost
jurnal firman maulana 2003–2008