Firman Maulana Personal Journal

 

Oleh-oleh dari Bandung

ini oleh-oleh
meski tidak kau minta
tetap aku bawakan
selain kartika sari dan ubi panggang cilembu
aku membawa senyum tulus
dari persahabatan yang sederhana
kamu tidak melihatnya?
itu dia, terselip diantara
jeans kalapa dan peta kota bandung
biar kuambilkan untukmu
masih tersimpan rapi
berbalut kertas koran edisi minggu
semoga kamu bisa merasakannya
belum?
seperti apa? kamu meminta aku menjelaskannya?

duh...
aku tak pandai berkata-kata
semoga kata yang akan kurangkai
tidak membuat senyum yang kubawa
untukmu berkurang sedikitpun

emmm, baiklah,
sekarang pejamkan matamu
lihatlah dirimu pada sebuah cermin
ah,
betapa sempurnanya kamu
dari ujung kepala sampai jempol kaki
tidakkah kamu merasa
semakin hari semakin cantik
cobalah tanamkan syukur
lebih banyak lagi
kamu akan semakin rupawan.
saat itu,
semuanya bisa kamu lakukan
tanpa mengharap imbalan
karena pamrih tidak lagi
berarti apa bagimu, bukan?
karena sungguh tidak ada artinya

lalu
sesuatu akan menarik sudut bibirmu
membentuk senyuman

nah sekarang
kamu pasti bisa merasakannya

harganya?
hei, biasanya pembawa oleh-oleh
tidak mengharap apa
begitu juga aku
karena memang tidak perlu
tapi jika kamu ingin tahu
aku akan memberitahumu
(tapi tentu saja aku tetap memberikannya padamu dengan cuma-cuma)
: tubuh yang letih,
keringat yang membasahi t-shirt,
berpuluh bulan sabit dan tujuh ratus kilometer,
jalan yang panjang,
disesaki oleh manusia-manusia bertopeng,
kepala yang memar
memikirkan itu semua
ataupun karena sering terantuk
kaca angkot yang dibawa dengan
kecepatan jauh melebihi cahaya

tapi aku yakin
yang benar-benar;
kamu akan menyadari
bahwa harga oleh-oleh itu
benar-benar tidak berarti
dibanding dengan
rasa yang meluap-luap
yang tak mampu disimbolkan oleh kata
ketika kamu membuka oleh-oleh dariku
sama seperti apa yang aku rasakan
pada saat aku membungkusnya

itulah yang sedang kubawa
didalam backpack
selain kartika sari dan ubi panggang cilembu
terselip diantara
jeans kalapa dan peta kota bandung
untukmu

#
terimakasih untuk bandungnya, tika
yang bersahabat dan tak pernah murung

Semoga

"bolehkan aku memanggilmu apa adanya?
tanpa embel-embel
tanpa harus menekan shift ataupun caps-lock
bukannya aku tidak menghormatimu
aku cuma ingin berakrab-akrab denganmu
setidaknya aku ingin merasa begitu
karena aku sendiri tidak begitu dekat denganmu
atau aku yang selalu menjauh
aku tak tahu
apa yang aku tahu tentang kamu

aku ingin melakukannya hanya untukmu
ini urusan aku dan kamu; kita
maafkan jika sebelumnya aku selalu membawa siapa
dalam hubungan kita
aku seakan tak pernah tulus melakukannya untukmu
selalu ada alasan untuk itu; selain kamu
: terpaksa, tidak ada kerjaan lain, ikut-ikutan
: sombong, pamer, egois,
: munafik (tolong kikislah topengku, biarpun sedikit)
sampai aku pernah berbalik padamu, memikirkanmu
ketika aku jatuh
hanya pada saat aku hancur

aku tahu, saat itu
kamu selalu melihatku dari jauh
ya kamu selalu memperhatikanku
tidak mengasihani pun mencemooh
tak menolong apalagi menjerumuskan
kamu percaya aku bisa melewati semuanya
sendiri

dan sekarang
aku akan jujur padamu ;

aku mulai jatuh cinta padamu

di bulan yang katamu suci ini
aku benar-benar ingin melakukannya untukmu
aku ingin melakukan
sesuatu yang tak pernah
bisa aku lakukan sebelum ini
aku ingin berpuasa hanya untukmu
bukan untuk siapa
ya, hanya untukmu,
tuhan

semoga aku bisa"

#
bandung, hari pertama ramadhan

Avonturir

Avonturir?

Ah terlalu berlebihan, saya cuma mau ber-backpack ria, berjalan dengan kaki saya (sudah agak baikan sehabis tabrakan kemaren, meski banyak memar yang belum reda, nyeri, jangan manja!), sendiri, tanpa siapapun, hanya saya, mengunjungi kota-kota, menyapa pejalan kaki, bercengkerama dengan kehidupan yang jauh lebih kompleks dari sekedar yang pernah kamu baca di chick-lit.

Kereta kelas ekonomi, tas punggung tentu saja, jeans butut sobek di lutut (tidak lupa membawa sarung untuk menutupi aurat ketika hendak bercinta dengan Yang Khalik, hey saya masih ingat sholat kok, hahaha), sandal jepit, duit seadanya (tapi selalu bawa atm, curang ya), kaos oblong hitam lusuh dan tidak lupa senyum untuk semua orang.

Rokok? Belum dalam daftar :), saya belum hobi merokok soalnya.

Dan tujuan kali ini adalah stasiun kiara condong, bandung.

...

Saya termasuk tipikal manusia yang berusaha memegang kata-katanya sendiri meskipun dengan toleransi yang cukup tinggi. Tuh saya datang kan Ki meskipun molor jauh dari waktunya, sekarang bantu saya menaklukan bandung hahaha.

...

Saya berangkat nanti malam.

Aduh!

Seorang gadis berseragam smu yang membawa sebuah piala yang agak besar ukurannya, sehingga dia pun kelihatan sulit membawanya dalam posisi membonceng ala wanita. Saya melihat pahatan itu pada dasar piala yang sedang ia peluk.

JUARA TIGA LOMBA KARYA TULIS

Saya tersenyum, menambah kecepatan motor lalu sedikit merapatkan pada motornya.

"Wah juara tiga nih" Bising. Kondisi jalan mataram yang selalu ramai membuat saya berkata setengah berteriak pada gadis itu. Muka gadis itu memerah ketika saya berusaha tersenyum

"Selamat ya" Sambung saya lagi, sebelum dia menjawab apa.

"Ah keliatan yah? Wah makasih mas.." Balasnya lugu, tangannya berusaha menutupi tulisan pada piala yang dipegangnya, senyumnya tulus, manis sekali. Saya pun meninggalkannya dengan senyuman yang lebih dari sebelumnya.

Menuju ke kampus, menemui dosen pembimbing yang sudah lama terlantar, maafkan saya pak. Hei ada beberapa sosok yang saya kenal. Di sekitaran kopma universitas gadjah mada.

"Hai" Sapa saya pada Yance dan Ervi Covri_kafral_afri, teman-teman kkn saya serta salah satu teman satu angkatan yang telah rampung, entah siapa namanya saya lupa, maaf. Sekedar menanyakan kabar dan ber hai-hai.

"Ke Gambiran naik jalur berapa ya, man?" Tanya Yance atau Ervi saya tidak begitu ingat.

"Gambiran itu mana ya?" Hahaha

Lalu saya minta ijin untuk melanjutkan perjalanan menuju kampus.

tulisan lengkapnya

Lelah

PuzzleKemarin
aku mulai mencoba
merangkai puzzle
tapi hancur tiba-tiba
aku tahu kenapa
aku diam
belum menyerah
mulai dari awal lagi
menata keping demi keping
meletakkan sesuai bentuknya
lalu tiba-tiba berantakan, lagi
aku tahu kenapa
aku mencoba untuk tetap diam
aku belum menyerah
ah bukan, tidak mau menyerah
tepatnya
ya
pasti akan kurangkai lagi
puzzleku

berulang terus
"sampai kapan?"
"sampai keyakinanku hilang?"
"sampai semangatku pudar?"
aku tak tahu

Lalu
hari ini
aku merasa lelah
lelah yang benar-benar lelah
kelelahan sempurna;
membangun sesuatu
yang selalu rusak

...
duh
sepertinya
aku tidak mampu
sendirian
menyusun puzzle itu lagi;
hatiku

yang terus menerus
kamu hancurkan

 

Ilustrasi oleh http://vektorscksprojekt.deviantart.com/ untuk kakilangit

Mula | Sebelum | ... 17 18 19 ... 22 23 24 25 26 27 28 ... 30 | Berikutnya | Akhir

saya
laki-laki dua puluh enam tahun; tinggal di yogyakarta, indonesia, menikmati setiap detik hidupnya dan bla bla bla...

del.icio.us

pengumpan

Dutahost
jurnal firman maulana 2003–2008