Kenangkan
"Hooi fir!!" Teriak seorang perempuan manis berambut ikal berwajah cukup familiar dengan antusias, ketika saya memasuki sebuah gedung untuk memenuhi undangan perusahaan tempat bapak saya bekerja. Ah saya cukup lega melihatnya, sungguh, karena saya pikir tidak akan bertemu dengan anak sepantaran dengan saya.
"Duduk di sini aja" Dia menawarkan tempat duduk di sebelah kirinya yang masih kosong. Sayapun tersenyum dan mengangguk.
"Hai apa kabar?" Sapa saya berbasa-basi pada perempuan teman masa kecil saya.
Ah teman masa kecil; benar, kami berteman sejak kelas empat sekolah dasar, pada saat kami belum terdistorsi oleh diskriminasi gender (yang mengelompokkan ras manusia berdasar cara pipis-nya saja). Saya terkenang akan permainan galasin di lapangan depan sebuah sekolah menengah swasta tempat kami sering menghabiskan sore bersama teman-teman lainnya yang pada akhir permainan tak jarang kami berkelahi, iya kami sering berantem; saling memukul (bagi saya perempuan itu kelihatan begitu perkasa saat itu). Seperti juga sekarang : masih saja senang memukuli tubuh kurus saya.
Empat Puluh Lima
Aku mencium pipimu, pagi ini, kiri lalu kanan, mesra sekali.
"selamat mengulang tahun, ibu"
bisikku di telinga kananmu dan kamu tersenyum (dan teruslah tersenyum bu); membuatku semakin menyayangimu
#
Karena kamu mencintaiku lebih dari yang aku tahu
Putih Kembali
jika saja memang ada paku
yang masih tertancap,
panas yang masih membekas,
mohon ikhlasmu
melimpahkan samodra pangapura
karena maaf adalah laut
yang meleburkan sungai-sungai
(duh, masih saja kurangkum
senyummu dalam kesedihanku)
maaf lahir serta batin
Untuk Manusia Paling Egois di Dunia
Ajari aku untuk menjadi sepertimu,
setidaknya sedikit, hanya mendekati.
Aku benar-benar ingin merasakannya.
Meskipun sesaat!!!
#
sudah?
Laut
"Selamat datang, aku selalu menunggumu"
Mungkin itu yang coba kamu sampaikan setiap kali saya pulang; ke rumah; selalu, setelah sekian lama saya meninggalkanmu untuk menuntaskan strata satu yang hampir rampung di kota paling ramah di dunia. Saya baru menyadarinya sekarang. Laut yang saya rindukan. Laut yang membuat saya nyaman. Ah saya selalu jatuh cinta pada semua yang bisa membuat saya nyaman.
Bukan karena kamu, laut yang menunggu saya, berlanskap sempurna. Tidak pula terbalut alam yang indah dan berpasir putih layaknya sundak. Tidak sehiruk-pikuk sanur atau kuta. Surfing dan snorkeling-pun sama saja dengan buang-buang waktu disini. Bukan pula karena ombaknya tidak sebesar dan seganas parangtritis. Tidak juga memiliki eksotisme lombok (duh saya belum pernah kesana, iri rasanya melihat segarnya wajah riyani djangkaru ketika mencumbuinya)
Iya saya mencintai laut tanpa alasan
begitu juga ketika saya mencintai apapun.
Dan saya pulang.
Berlari menuju lantai atas hanya untuk melihat laut dari balik jendela.
Kamu masih disana.
Setia.
Tolong jaga ibu ya (juga hati saya),
seperti yang sudah kamu lakukan selama ini.
Mula | Sebelum | ... 17 18 19 ... 22 23 24 25 26 27 28 ... 30 | Berikutnya | Akhir

