Untuk Sahabatku yang Beberapa Saat Lalu Baru Saja Tercekat oleh Separuh Cintanya
Setelah sesaat aku menikmati diammu,
biarkan kulanjutkan dengan tidak
menunjukkannya kepada apa-apa,
ataupun menjejalkan sesuatu padanya,
apalagi mengartikannya dengan
tawa melindas kecewa.
Kata-kata,
sama-sama hanya kita baca,
hanya begitu.
Kalaupun ada kalanya mencibirkan getir,
melumatkan hasrat, meneguhkan niat,
itu sebab segala ulahnya ; kata-kata itu,
bukan maksudku.
Sungguh, pertama sekali ini aku
menggumamkan kata-kata yang pernah
aku kamitkan ketika engkau bahkan benar-benar
tak melihat liuk bibirku,
kukedipkan pun engkau tak menatapku,
dengan secarut coretan saja.
Kepadamu, engkau yang pernah sekali-dua
menggandeng tanganku untuk sekedar ikut merasakan
menyandung batu-batu,
menyeret kaki-kaki ke muka licinnya untuk meresapkan
bagaimana terpeleset itu.
Hhhh, selalu saja ia punya celah untuk tumpah
ruah di dalam gundah-gundah,
dan terkadang menyelimuti amarah.
sudahlah, kenapa juga kita tak benar-benar
mencoba percaya padanya, menyerahkan
resah diuapkan oleh panasnya,
meng-antuk sejuk?
................................
(Eureka !!!!
aku telah menemukan jawabannya!!!)
Untuk Temanku yang Hidupnya Berarti Bahagia
Fase, jika kamu menyebutnya begitu, mungkin inilah fase yang paling besar dalam hidupmu1. Sebuah turning point, titik balik; diantara banyak persimpangan, jalan satu arah, mungkin sedikit jalan bebas hambatan, kemurahan petugas lalu-lintas untuk tak mengejar saat kamu menerabas rambu-rambu, traffic light dengan nyala lampu merah yang lama yang tak jarang membuat kesal, forbidden road, tempat singgah di tepi jalan yang berulang-kali menggoda; pilihan diantara bir dingin dan temulawak2 ataupun berjuta jalan berlubang, penuh kerikil dan tak beraspal yang sering kamu tapaki.
Bahwa pengalaman-pengalaman sering menjadi tepukan paling keras di punggung kepalamu saat kamu tak sadar, saat kamu bertingkah bodoh menghadapi masalah ataupun ketika bersikap; adalah cara kamu tumbuh menjadi manusia dewasa.
Masih ingatkah kamu fase hidupmu sebelum ini. Saat kamu memutuskan untuk tidak lagi menjadi egois. Saat kamu mulai belajar membagi semua yang ada padamu. Saat kamu memutuskan bahwa waktu bukan hanya milikmu sendiri. Masih ingatkah kamu akan segala cemoohan, sinisme dan gunjingan semua orang; bahkan dari sahabat-sahabatmu sendiri (duh, maaf teman; aku salah). Saat kamu mengajari aku tentang bertahan untuk terus hidup dari opini publik yang kerap menjadi pembunuh semangat.
Gadis mungil yang namanya berarti perempuan yang disayangi tuhan itu mengepalkan tangannya ketika aku tersenyum padanya; ah, aku yakin kamu telah menurunkan semua semangat, jiwa yang tegar, sapaan optimisme pada hidup maupun kekeras-kepalaan kamu.
Gadis mungil dengan paras cantik, kulit yang masih merah dan pipi yang masih halus (boleh aku menciumnya?) itu seolah membalas senyumanku; paduan sempurna antara halus sikap ibunya dan sifat bapaknya yang tak mau kalah.
Sebuah titik balik dalam hidup, temanku, aku tahu kamu juga sering berharap begitu.
_______________________
1 Aku baru sadar; kamu tak pernah tersenyum selebar tadi malam. Selamat untuk sahabatku, Candra dan Kumala; yang kepada mereka telah dititipkan sebuah anugrah.
2 Tuhan dan Bir, Sindhunata
Sudah Setahun
Pagi masih saja menunggu ketika sebuah pesan pendek hadir di ponsel saya, memaksa saya untuk membuka mata; untuk menghirup embun pagi yang di bawa udara dingin; untuk sekedar menggerakkan tubuh yang masih lekat dengan mimpi. Bangun, pemalas!
"jam sepuluh : on time" Begitu bunyi pesan yang disebar seorang perempuan, teman saya, menggunakan message service centre yang kompatibel dengan salah satu jaringan operator gsm di negeri ini untuk menikmati berkirim pesan pendek secara cuma-cuma (sadarkah kalau metode semacam itu membuat kamu susah dihubungi secara on time? Hahaha). Dan juga kabar-kabar yang lain; tentang pembagian jatah penyedia konsumsi, ancaman agar mau ikut serta atau tentang hari yang telah dijanjikan, hari penggemukan badan.
Musim Hujan: Hati-hati
Sudah saya perhitungkan; saya bisa menyalip dua buah mobil didepan saya, toh tidak ada kendaraan lain pada arah yang berlawanan. Jalan alternatif di tepi pantai selatan pulau jawa yang menghubungkan yogya dengan kebumen ketika itu diguyur hujan yang deras, dingin yang menusuk.
Persneling empat. Perkiraan yang detil. Jalan lurus yang sepi. Wuss. Satu mobil sudah terlewati. Dengan kecepatan seperti ini rasanya bukan tidak mungkin langsung diteruskan dengan meyalip mobil satu lagi yang jaraknya hanya sekian detik.
Persneling empat. Perkiraan yang detil. Jalan lurus yang sepi. Wuss. Tiba-tiba mobil itu membanting setirnya kearah kanan; menghindari lubang dijalan, mungkin, ketika saya belum sempat mendahuluinya. Reflek yang masih tersisa ditubuh yang rapuh ini masih mampu menghindari gesekan antara tubuh manusia dan badan metal itu. Tapi licin, jalan sudah habis ketika saya terpeleset jatuh ke rerumputan.
Sraaakk!!!
Saya jatuh. Detik yang hilang. Ah, teman yang membonceng di belakang saya juga ikut terlempar ke jalan.
The Mind of Marriage Man
"Hahaha, kamu sama sekali tidak berubah" Sapa teman saya ketika datang untuk berlebaran dengan saya, di rumah lama, dengan mobil kijang milik kantor tempat ia bekerja yang berplat yogya ketika hari sudah gelap diantara gerimis yang akhir-akhir ini selalu menyapa kota saya.
Saya hanya bisa tertawa kecil. Tidak berubah? Dia yang pantas disalahkan, dialah yang berubah terlalu banyak dalam jangka waktu secepat ini. Lihatlah : jambang, jenggot dan kumis yang memenuhi wajah bulatnya (membuatnya selalu kelihatan lebih tua dari umur sebenarnya), perutnya yang semakin membuncit, logatnya yang sudah belepotan antara logat klaten, boyolali dan lingua franca kami dan lihat juga tabel status kawin/tidak kawin pada ktpnya sekarang.
Mula | Sebelum | ... 10 11 12 ... 15 16 17 18 19 20 21 ... 24 25 26 ... | Berikutnya | Akhir

