Alan
Kami bertemu dengannya di lantai dua Taman Budaya Yogyakarta sewaktu menunggu seorang teman yang belum juga nampak. Di depan pintu masuk pertama, sembari mengamati manusia yang lalu-lalang di balkon besar itu. Ia memakai celana pendek, jaket kulit coklat, tas cangklong dan sepatu keds. Tidak begitu kumal. Tapi tak bisa dibilang bersih.
Sejenak kamu menyadari perbedaan kultur berpakaian penikmat budaya di Yogyakarta dan Surabaya. Celana jeans, kaus T; biasanya hitam, karena itu adalah warna yang tak mudah kotor, sandal atau sepatu keds. Natural. Nyaman. Dan biasanya penonton pertunjukan seni dan budaya selalu membludag di sini. Kamu lalu membandingkan penikmat di Cak Durasim ketika Sarimin dipentaskan. Lalu kita tertawa.
Ia membawa papir dan tembakau. Kulit wajahnya sudah bergurat banyak, menandakan ia tak lagi muda. Kurus. Ceria. Kulit putih, mata biru dan rambut pirang. Sejenak dia memandangi kami yang duduk lesehan di depan pintu yang tak terbuka.
"Saya dapat tiket dari calo," tanpa basa-basi dia menggerutu pada kami dengan bahasa Indonesia yang fasih.
"Berapa harganya?" tanyamu.
"Tigapuluh lima ribu," sambil duduk di samping kami ia masih menyatakan kekesalannya. Ia lalu mengacungkan sekilas tiket Sidang Susila berwarna kuning.
"Selamat datang di Indonesia," gurauku. Kami tertawa. Ia tidak.
Kiri atau Kanan
Aku melihat jam mekanik di pergelangan tanganku. Pukul duapuluh kurang beberapa detik.
"Dah mulai tuh teaternya," aku menggodamu.
Kamu tersenyum-senyum. Tenang atau kalut, aku tak tahu.
"Aku tunggu dia. Kamu masuk aja dulu," sahutku lagi. "Nanti aku susul".
"Gak ah," jawabmu sambil mencoba menghubungi seorang teman yang tak kunjung datang.
Seorang teman dari kota yang jauh, sedang berkunjung ke Yogya. Terpesona dengan monolog Sarimin, dia mencoba peruntungannya dalam Sidang Susila. Pukul duapuluh seharusnya pentas teater Gandrik itu dimulai. Ia masih juga belum tampak. Kami berdua sedikit was-was. Tersesat. Tak tahu arah. Itu dugaan terburuk. Untung saja belum ada tanda-tanda pertunjukan dibuka.
Kami harus menunggunya.
"Dimana?" Tanyamu setengah berteriak begitu hubungan telekomunikasi tersambung.
"Nih ngomong aja sama Firman," serumu setelah beberapa saat, lalu menyerahkan k750i-mu padaku. Putus asa mungkin. Atau malah semakin bingung setelah mencoba mengarahkannya menuju tempat ini. Perempuan memang dikaruniai pemetaan yang lebih buruk dari laki-laki.
"Halo, sampai di mana?" Tanyaku padanya.
"Hai Fir, di halte Trans Jogja nih. Terus ke mana?"
"Eh?"
Halte bus berwarna hijau teduh itu puluhan. Di sekitar Taman Budaya Yogyakarta saja ada sekitar tiga kalau tak salah. Dua di dekat Shopping. Satu di depan Vredeburg.
Paman Gober Belum Juga Mati
Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal : apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang disana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.
Kematian Paman Gober - SGA
Paman Gober belum juga mati. Koran, radio, blog bahkan semua media informasi di seluruh negeri membuatnya menjadi headline. Pemerintah negeri bebek tersenyum simpul. Sedikit lega. Tak lagi menjadi sorotan, tak lagi dicecar rakyat; yang masih terendam banjir, tertimbun longsor dan tercekik harga kedelai.
Pemerintah negeri bebek belum lupa jika rakyatnya mudah dibuat lupa.
Dari Tumbaling Gegayuhan Sampai Tuk
Selalu ada rasa kangen untuk melihat pertunjukan seni saat berada di Yogya. Bisa jadi karena kota ini tidak pernah kehabisan ide, talenta dan semangat berkesenian di tengah geliat kapitalisme. Menjadi surga bagi seniman maupun penikmat seni. Saya mungkin termasuk jenis kedua, seorang penikmat seni yang tidak harus menjadi ahli, karena sebuah pertunjukan seni bagi penikmatnya selalu menjadi semacam pengisi pundi jiwa yang kerap kosong.
Adalah kosong; ketika menjadi serba bergegas dan sia-sia menemukan keindahan hidup gara-gara dikejar target; mengutip Bre Redana. Sebuah tagline seni instalasi dari Dagadu di Biennale Yogya menyindir saya tentang kerja dan kekosongan; Kerdja Keras bagai Koeda, Kedjar Tjitra-jitra! Soegeng Makarja. Lalu seketika itu juga Gibran menjadi kadaluarsa; kerja bukan lagi pengejawantahan dari cinta, bukan begitu? Alih-alih melambat dan memaknai hidup; saya malah seringkali membuat resolusi untuk mempercepat langkah dan membudayakan kebergegasan pada pergantian tahun.
Saya menyukai teater, mungkin Anda juga, dan tak sedikit yang seperti Anda dan saya. Tapi menurut saya teater di negeri ini adalah semacam paradoks. Gempita seni pertunjukan tak serta merta membuat teater tak termarjinalkan. Saya yakin pengalaman berteater akan membuat keahlian para seniman seni pertunjukan semakin komplet, saya pikir itu jauh lebih dari pada main sinetron. Tapi tetap saja ia menjadi anak tiri seni pertunjukan lain seperti film dan musik. Padahal teater merupakan salah satu seni pertunjukan tertua dan ia telah menjadi bagian dari kehidupan tradisional masyarakat di beberapa daerah. Sebut saja lenong, ludruk atau kethoprak.
Gerimis
Arakan awan gelap yang sembunyikan matahari di balik punggungnya itu membuat cahaya jingga di kakilangit perlahan memudar. Lalu lamat-lamat aku mulai melihat butir-butir air basahi putih pasir pantai, jejalanan, pura-pura, sawah-sawah, pun tubuh anak-anak yang masih saja bermain.
Musim penghujan mulai datang menyapa pulau ini. Hujan yang ingatkanku untuk mulai menulis. Hujan yang selalu mengingatkanku pada sebuah kota yang paling ramah didunia, dan juga padamu.
Lalu kuhidupkan notebook, menjalankan iTunes dan mulai menulis. Tapi alunan Gerimis KLA Project dan gemericik air di luar membuatku memilih untuk berhenti menekan tombol-tombol keyboard dan sekedar membiarkan pikiran dan perasaan ini terbang melayang tak karuan; menuju pada kenangan tentang segelas Moccachino hangat beberapa tahun yang lalu...
Hhh, selalu saja ada sesuatu yang tertinggal dalam hujan; sesuatu yang mengingatkanku pada kota yang paling ramah didunia, dan juga padamu.
Sejenak kupejamkan mata, merasakan bau tanah basah dan rindu yang membuncah. Semacam sebuah ritual; menyambut gerimis...

