Firman Maulana Personal Journal

 

Dian

Dian Sastro for PresidentBuku itu datang satu paket bersama dengan seorang sahabat dengan gambar apel merah, virus hantu yang bunuh diri gara-gara patah hati, sedikit cerita dari makasar dan sebuah pin cantik dengan tulisan yang sama dengan judul bukunya;

Dian Sastro for President:
End of Trilogy

;senin sore sehabis film mandarin yang terlewat di fakultas ilmu budaya dengan tokoh utama yang mempunyai banyak kemiripan muka dengan salah satu teman sma saya; setelah sebelumnya tertidur saat menonton clouds of May beberapa saat yang lalu, selepas hujan deras yang menenggelamkan jalan kaliurang dengan air setinggi lutut, setelah melanjutkan perjuangan enam bab dan tidur siang (kok saya kerap melewatkan kemewahan hidup yang satu ini, ya?).

Dua. Masih disampul plastik, layaknya buku baru. Dia membantu melepaskan satu buku dari plastik pembungkus ketika saya kesusahan membukanya.

"Soko pucuk ki lho nek mbukak" Instruksinya sembari terus melucuti buku dengan cover coklat itu.

"Huaa, gambare apik!" Ah, saya memang sering tidak cerdas mengomentari hal-hal yang menarik. Buku itu untuk saya. Antologi duaratus puisi dalam buku setebal duaratus enampuluh empat halaman; dengan kondisi saya harus dengan cepat membuat invoking call, maptype, parsing dan blablabla lainnya; ini jauh lebih menggoda. Tapi tetap saja; mengomentari gambar sampul bukan hal yang cerdas.

Senyum saya mengembang.

Solilokui saya; lebih tepat disebut begitu, ada didalamnya. Di buku itu, halaman berapa saya lupa. Gumaman saya tentang si mata sayu yang sekarang entah dimana dan perempuan dengan senyum yang tak pernah pudar (ah ternyata saya masih takut jatuh, setelah sekian lama luka itu sudah tak kelihatan dari luar; seperti sembuh padahal entah)

Dan semakin dipandang, sampul buku dengan gambar sosok perempuan bernama Dian dengan dua sayap minus kepala itu memang menarik; dibanding ribuan baris kode program. Saat ini.

Rabumu Semestinya Tidak Kelabu

Bulan purnama itu, senyuman itu,
malam-malam panjang itu, matahari itu,
harapan-harapan itu, pesan pendek itu,
dan akhirnya airmata itu;
duh sahabat, aku sama sekali tidak tahu.

Yang aku tahu hanya:
semestinya rabumu tidak kelabu...

Delapan Puluh

Suatu waktu ada saat dimana manusia harus memilih atau dia tidak akan menjadi apa-apa

Kek, aku memanggilmu begitu karena kerut-kerut umur itu mulai menutupi wajah keras nan lugas dari sosok yang berani untuk selalu berjalan di atas kebenaran. Kek, aku suka tulisan-tulisanmu meski tidak semua aku baca pun aku tak becus memaknainya. Aku juga tidak pernah ngefans berat padamu atau tulisanmu, tidak juga mendiskusikannya dalam komunitas-komunitas kelompok baca seperti beberapa lainnya. Aku hanya memiliki beberapa buku saja, tidak banyak, habis kebanyakan buku-bukunya mahal dan tebal. Aku juga sempat mampir di university center dua tahun yang lalu di kampusku untuk melihat sedikit keriputmu diantara semangat perlawanan terhadap penindasan dan kesewenangan yang masih juga membuncah. Buku pertamamu yang aku baca sembilan tahun yang lalu tidak pernah tuntas, dan celakanya aku lupa judulnya. Aku cuma ingat salah satu kutipan kalimat -itupun kalau aku tak keliru- yang ada buku itu; salah satu dari berpuluh atau bahkan dari beratus buku; yang kamu tulis dengan mesin ketik yang mengeluarkan bunyi 'cetak cetok'; yang merupakan satu alasan kenapa kamu tidak juga beralih ke word-processor yang banyak disediakan oleh mesin bernama komputer, dirumah atau dipenjara atau dimana saja.

Kek, aku bukan aktifis atau sastrawan atau minimal mahasiswa ilmu budaya pun isipol yang mampu menangkap makna dari tulisan-tulisanmu, tapi dengan kepiawaianmu aku bisa kamu ajak tersenyum dan merenung untuk menjadi lebih manusia ketika menelusuri hidup yang kamu tuangkan dalam kata. Kek, harus kuakui kamu adalah tukang ketik manual, pendongeng, penulis, sastrawan dan pencatat sejarah terbesar yang pernah dimiliki negeri ini. Kek, aku juga baru sadar kalau hari ini umurmu tepat delapan puluh tahun dari koran nasional yang mempunyai oplah terbesar di negeri ini.

Selamat mengulang tahun saja kakek Pramoedya Ananta Toer.

Tiba-tiba Aku Memikirkanmu

Aku memikirkanmu, sejenak setelah bunyi pesawat yang kukira air yang meluap dari tangki yang telah penuh, setelah mobil putih dengan tulisan terbalik di depannya yang berhenti didepan rumah dengan bendera putih dan tenda besar dan kursi-kursi dan airmata, setelah ribuan lembar kertas elektronik berekstensi pdf tentang hal-hal yang tak juga kupahami, setelah jendela mindmanager yang hanya bisa kupandangi, setelah lembaran limapuluh ribuan lecek yang tak sempat masuk dompet, setelah wajah pacar temanku yang selalu tersenyum padaku dan setelah hujan deras yang terus-menerus mengguyur kotaku sepanjang hari ini.

Aku tiba-tiba memikirkanmu, sejenak selepas kamu tersipu. Memikirkan dalamnya matamu; hamparan pantai dengan warna yang menjadikanmu begitu indah. Menghentikan waktuku, mengambil nafasku. Kenangkan aku akan tegarmu dalam berjuta senyuman manis pun airmata.

Adalah hal yang cukup bagus: menyadari bahwa diri kamu adalah pribadi yang cerdas, cantik dan tegar (duh mukamu tak perlu menjadi merah dan malu untuk mengakuinya karena kamu memang seperti itu). Sehingga kamu bisa lebih bersyukur pada tuhan yang memberi begitu banyak berkah padamu, syukur yang akan melengkapi ruang yang kosong dalam hatimu ketika perasaan-perasaan itu -hampa, kurang atau perasaan incomplete- mampir. Dengan begitu tentunya kita akan menjadi lebih tegar, menjadi lebih manusiawi, menjadi lebih berperasaan dan menjadi lebih baik ketika kita beranjak tua detik demi detiknya.

Bahwa aku tidak selalu menjadi atap yang meneduhkanmu, tidak selalu menjadi bahu penahan tangismu, tidak selalu menjadi pendengar yang baik bagi keluh-kesah dan bahagiamu. Kata-kataku yang biasa kauanggap sebagai nasehatpun suatu saat akan menjadi sunyi, sehingga saat itu kita hanya bisa saling bertatapan. Itu semua karena hanya dirimu yang bisa melindungi perasaan-perasaanmu, hatimu; bukan aku atau siapapun.

Adalah pengalaman-pengalamanmu yang akan terus menjadi nasehat terbaik bagimu, selalu.

Aku?
Ah, aku hanya pengagum hidupmu.

Bulan dan Bintang

Bulan :
"Matahari memang punya banyak luka, itu sebabnya ia mudah menyala.
Aku memiliki ragam bentuk, sehingga seringkali tak sesuai dengan matahari.
Betapa sulit matahari untuk didekati.
Tapi, aku tetap dapat merasakan hangatnya, pun sentuhan mesra cahayanya, membuatku ikut bersinar.
Matahari suka pada siang, aku nyaman dengan malam.
Saling melengkapi kehidupan.
Ah, andai matahari dapat akrab juga denganmu, sahabat yang menemaniku diwaktu malam...
Selamat malam Bintang."

Bintang:
"Tak sadarkah kau, bulan? Bahwa aku dan matahari adalah saudara kembar,
bintang-bintang yang selalu memberimu cahya dan kehangatan, murni tanpa tendensi.
Dan bukan seberapa sulit kami didekati, karena bagi kami dengan menutup matapun kamu sudah begitu dekat.
Percayalah, bahwa kami sebenarnya tidak mengenal malam dan siang,
kalaupun ternyata ada, kami akan mencintai keduanya.

Ssst, dan aku punya satu rahasia lagi tentangmu, Bulan:
Bahwa kaupun bisa bercahya, dengan atau tanpa kami;
karena sebenarnya kamu juga bagian dari kami,
bintang tercantik yang paling dekat dengan bumi manusia...
Selamat pagi Bulan."

Mula | Sebelum | ... 10 11 12 ... 15 16 17 18 19 20 21 ... 24 25 26 ... | Berikutnya | Akhir

saya
laki-laki dua puluh enam tahun; tinggal di yogyakarta, indonesia, menikmati setiap detik hidupnya dan bla bla bla...

del.icio.us

pengumpan

Dutahost
jurnal firman maulana 2003–2008