Firman Maulana Personal Journal

 

Satu Episode yang Hampir Selesai

Menunggu selama hampir satu jam di sekretariat program studiku membuat kemeja putih itu basah oleh keringat. Jam dinding itu tersenyum ketika lirikan mataku berulang kali beradu dengan detak yang beraturan ditiap detiknya. Tanganku dingin, wajahku pucat.

"Sebentar ya mas" Kata seorang ibu, karyawan di sekretariat itu. Ramah. Tidak seperti yang sering kubayangkan. Menenangkanku. Mungkin saja karena tidak tega melihatku menunggu sedari tadi. Mungkin juga kasihan . "Dosen ketua pengujinya belum selesai mengajar" Lanjutnya.

Aku menyalakan ponsel yang memang sengaja kumatikan dari pagi. Satu detik, dua detik menunggu gambar-gambar yang muncul ketika ponselku bangun dari tidur. Lalu muncul kotak kuning dilayar ponselku: New SMS: 13. Read?. Aku mulai membacanya satu demi satu. "Kenapa tidak diganti ayam saja, bukan kupu-kupu. Setidaknya kamu bisa tambah gemuk" Katamu mencoba menghibur. Ah, aku kan cuma menerjemahkan ungkapan 'butterflies on my stomach' yang sering diucapkan orang-orang dari eropa :p.

"Ooh jadi psikosomatis yang kemarin tuh gara-gara hari ini ya?"
"Pendadaranmu jam piro? Nangdi?"
"Jancuk, ra ngomong-ngomong"
"Sori gak bisa dateng. Goodluck aja. Emang ruangnya dimana ya?"
....

Ah, ada sesuatu yang membuatku tersenyum. Pesan-pesan singkat itu. Aku memang tidak mengatakannya pada semua orang. Hanya beberapa. Itupun tidak terlalu detil. Tidak ingin diketahui oleh siapapun. Aku akan menjadi maha panik jika mereka melihatku, disidang ujian pendadaran yang memang terbuka itu, pikirku. Akupun tidak membalas pesan-pesan itu.

tulisan lengkapnya

Ayam Dalam Charger SonyEricsson

Waktu itu tidak hujan, tapi bintang belum datang, tertutup awan, begitu juga bulan yang belum kelihatan. Hmm tampaknya keadaan disana sedang tidak begitu baik mengiringi gundah dan perasaan tak menentu yang ada beberapa hari terakhir. Menunggu sesuatu, dengan ketakutan-ketakutan yang tidak perlu (sepertinya aku terkena psikosomatis akut) Teman-teman pun berkumpul menemani, memenuhi kamar tiga kali tiga dengan cat putih dan sedikit sapuan biru muda yang tidak karuan layaknya lukisan abstrak yang menambah jumlah kupu-kupu dalam perutku.

tulisan lengkapnya

Kesepian yang Hadir Ditengah Keramaian

"gimana kabarnya pal?" Kamu datang menyapa ketika mataku yang masih lekat dengan pengolah kata didalam sistem operasi bajakan ini tak juga mau diajak terpejam barang sejenak. Padahal sudah capek.

Nescafe three in one yang mulai dingin, potongan tiket sebuah tempat wisata, foto senja ukuran tiga er, setengah rim paperline delapan puluh gram dan dua buah jam yang berhenti berdetak masih juga menemani. Waktu itu aku sedang sibuk menempatkan namamu di salah satu halaman yang aku tulis. Hei ini bukan kali pertama kamu menyapa disaat aku baru saja memikirkanmu. Kamu pasti seorang cenayang.

Dan kamu pun bercerita tentang kabar-kabar yang kurindukan. Tidak seperti biasanya, ada yang sesuatu selain sapa yang dipaket dengan senyum manis dan kabar hatimu yang kerap kutanyakan.

"sepi..." Ah, kali ini kamu titipkan sedih; sepi yang hadir diantara keramaian, kesepian di maha kerumunan, padaku. Bahwa kamu tidak pernah berjalan sendiri bukan berarti kamu tidak pernah merasa kesepian.

Seandainya kamu tahu, sahabat, beberapa manusia dibuat dari air, ada juga yang tersusun dari pasir, batu, awan atau bahkan api, tapi tidak dengan kamu. Aku tidak pernah tahu dari apa kamu diciptakan. Hanya satu yang pasti: sesuatu telah membentukmu menjadi lebih tegar dari sekedar yang terlihat dari luar. Beberapa orang jatuh, terpuruk dan tak pernah bangun. Kamu lain. Kamu tidak pernah berlama-lama dengan sepi dan sakit, bahkan kamu bangkit terlalu cepat.

Aku suka caramu memperlakukan hidup, hati dan senyuman.

"...jadikan ini sebagai sahabat yang menemani dalam kesepian-kesepianmu. Semoga tuhan terus menjaga hatimu (seperti yang sudah dilakukannya selama ini). Take care, pal. Ganbatte!!!" Kamu tentu masih ingat kata-kata itu kan.

Di kamusku itu artinya: kamu harus bahagia.

Senja Kemarin

Mungkin aku tidak pernah tahu warna biru bisa sebanyak itu seandainya kamu tidak membagi senja yang cantik kemarin sore. Kamu menghitung warna yang muncul disela-sela arak awan, sinar matahari, pucuk-pucuk pohon yang aku tak pernah tahu namanya, burung-burung yang sesekali melintas dan angin yang malas. Bumi pun enggan untuk cepat-cepat membalikkan badan, mengirim senja kali itu ke dalam gelap. Apa bumi juga ikut menikmati senja bersamamu? Aku cuma melihatnya tersenyum sekali dua padaku, pada matahari dan mungkin juga pada bulan yang belum tampak.

Tujuhpuluh tujuh, pas, tidak kurang tidak lebih, katamu yang mungkin sedang memakai kacamata biru atau melihat senja dibalik jendela biru. Kamu buat daftar warna biru yang mengiringi senja yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Biru? Aku mengharap warna darah pada tiap senja, bukan biru. Yang benar saja, biru tidak akan cocok dengan senja. Senja itu lelah, habis, istirahat, mati, darah dan akhir. Seno gumira saja yang mungkin keterlaluan dalam menggambarkan senja yang membuat banyak orang terkena senjamania atau senjaholic.

Akupun tersenyum, menghentikan langkahku, di pinggir sawah disekitar jalan a m sangaji, menghadap ke barat. Sebentar, kataku pada diriku sendiri. Melihat jam digital pada layar ponsel untuk memastikan bahwa senja ini datang tepat pada waktunya. Mengucek-ucek mata.

Lho?

Duh, kamu benar, ada biru di senja kali ini. Banyak. Mungkin tujuhpuluh tujuh. Tepat seperti pada daftar komposisi warnamu yang panjang. Bagus. Tidak sedikitpun biru itu mengganggu warna kemerahan pada langit senja seharusnya. Aku cuma bisa melongo terkagum-kagum layaknya anak kecil yang belum pernah melihat senja. Sial, seno gumira juga benar. Senja bisa menjadi sangat cantik, tak salah kalau dia menularkan wabah gila senja. Apa dia jadi pintar menulis gara-gara melihat senja yang sama beratus waktu yang lalu?

Belum pernah ada senja secantik ini sebelumnya.

"Duapuluh dua lagi akan menyempurnakan komposisi biru pada senja kali ini fir" Katamu lagi. Seperti nama-nama Tuhan yang menjadi sempurna pada hitungan ke sembilanpuluh sembilan. Kamu mengharapkan kesempurnaan akan datang pada biru yang terbentuk hingga malam. Kurang satu mungkin tidak sempurna tidak juga pada satu yang lebih. Harus tepat. Kamu suka biru ya?


"Aku punya duapuluh warna lembayung yang kusimpan dalam kotak biru dari senja yang belum sempat aku bagikan padamu" Kataku padamu dengan harap bisa meringankan pekerjaanmu mengumpulkan warna biru (pekerjaan itu berat lho, istirahat sebentar kalau capek)

Tapi sayang bukan biru, cuma lembayung yang sunyi. Lembayung yang aku dapat dari senja yang tentunya kalah apik dari senja kemarin sore, ketika air dari gerimis yang mulai berkemas bercampur dengan air wudhu.

Lembayung itu, mungkin cuma kesepianku memaknai senja dan punggung matahari.

Sudah Maret

Ingatkah kau?

Kita bertemu terakhir kali saat bulan mati sebagian, saat hujan mulai mampir, saat jalanan terang meski bukan sabtu malam, saat para darwis mulai berhenti menari dan waktu bapak-bapak pelaku jathilan masih juga menanti trance yang tak kunjung datang.

Sudah lama sejak saat itu...
Banyak yang aku lewatkan, bukan?

Ah, aku memang sedikit tidak beruntung, sahabat. Tapi, maukah kamu menceritakannya kembali padaku, sedikit saja: tentang kisah angin yang selalu membantu kepak sayap, tentang sungai-sungai yang selalu bercabang, tentang bulan dan matahari, tentang senyuman yang selalu kurindukan, tentang manusia, stasiun, jalan-jalan sepi, senja, gunung, laut dan durian limaribu kotabaru.

Sembari memutar mocca's lucky man dan menyeruput kopi pait dari lampung;
Aku akan bercerita tentang februari,
februariku...

(setelah ceritamu, tentunya)

Mula | Sebelum | ... 10 11 12 ... 15 16 17 18 19 20 21 ... 24 25 26 ... | Berikutnya | Akhir

saya
laki-laki dua puluh enam tahun; tinggal di yogyakarta, indonesia, menikmati setiap detik hidupnya dan bla bla bla...

del.icio.us

pengumpan

Dutahost
jurnal firman maulana 2003–2008