Dian Sastro Membaca Kartini
Undangan:
Dian Sastro Membaca Kartini, hari Sabtu 23 April 2005 di Akademi Kebudayaan Yogyakarta, pukul 19:00 WIB. Peluncuran buku antologi puisi Dian Sastro for President 3: End of Trilogy.
Gratis kok.
Penuh Waktu
Hari-hari melelahkan, don't-know-will-be days aku menyebutnya, berganti begitu saja, menyeret-nyeret langkah yang masih saja tertatih jika harus berlari. Aku capek. Aku menyerah saja. Tapi kamu tidak sependapat denganku.
Dan dalam satu tarikan nafas pendek ada yang berubah; ada senyum yang muncul, ada gelak yang terbuang, ada anggukan pelan yang langsung beralih gelengan. Saat tegar maupun jatuh. Tuhan bekerja dengan cara yang sangat misterius, caranya sendiri, cara yang menjengkelkan kurasa, cara dia memberiku pelajaran hidup (ah, ternyata aku punya tuhan yang maha-pemberi-kejutan, tuhan yang juga maha-deadliner).
Days-on, days-off. Dalam hidupku konstan adalah semu, seperti juga statis, abadi, ideal dan sempurna. Tidak ada yang mengharapkanmu untuk terus-terusan tersenyum saat kamu tidak menginginkannya. Bukannya ingin mengecilkan masalahmu pun sebaliknya. Sesekali ruang egois itu perlu memaksa dunia agar kelabakan menyesuaikan dirinya dengan kita. Sesekali saja. Tak apa kan?
"Di surga kulihat sepasang mata milikmu
Pada sepasang matamu kulihat surga1"
Adalah waktu-waktu itu, saat dimana aku bisa menjadi apa yang aku rasakan, dimana senyum dan airmata adalah hal yang sama, dimana empati tidak berarti jatuh bersama-sama, melainkan bagaimana bersama-sama bangkit. Ini bukan tentang hal-hal yang harus dilupakan, tapi tentang adaptasi, membiasakan diri dengan hal-hal yang tak mungkin dihapus, menjadi bagian dari cerita, suka atau tidak.
Tidakkah kamu sadari? Bagiku ini adalah 'kerja-penuh-waktu2' yang menyenangkan.
_______________________
1 Ajaklah Aku Kemanapun Kau Pergi, Maulana Jalaluddin Rumi.
2 Meskipun tidak 24/7 tapi masih merupakan kalender yang tak pernah merah (hmm today its my prophet's birthday, isn't it?)
Tidak Peka
L'Arc En Ciel De Miles-nya Incognito menyadarkanku bahwa panning bar itu rata kanan. Emm sudah berapa lama ya? Mungkin aku saja yang tidak pernah peka jika ada yang salah dengan sistem suara pada komputerku, atau mungkin pada apa saja. Seperti terjadi pada hari-hari yang sering, bukannya aku hendak memalingkan muka atau berlagak tak peduli atau menjadi anti sosial, tidak karena alasan keterbatasan kerja mataku yang silinder juga rabun, tapi karena aku memang tidak pernah pandai memindai sekeliling. Jadi maafkan jika aku berulang kali mengacuhkanmu; di jalan, di tempat makan, di perpustakaan, di pasar, di konser musik jazz, di pembacaan puisi, di masjid, di gereja, di pura, di vihara, di acara kampus, di perempatan, di pementasan teater, di kerumunan.
Bisa jadi aku tidak pernah peka, bahkan jika ada 'sesuatu' pada hidupku.
Efek Kupu-kupu
Cos all of the stars are fading away
Just try not to worry you'll see them some day
Take what you need and be on your way
And stop crying your heart out
Ah, semua akan berjalan sempurna seandainya aku tidak bertemu Kayleigh.
Ya, semuanya, kecuali ...
Empat Setengah Jam
Aku agak cemas dengan hujan yang terus mengguyur senja dan menghalangiku untuk melihatmu beberapa waktu terakhir. Pun siang itu.
Mungkin aku masih saja terkena efek dari kapucino klasik atau es coklat atau jus jambu aku tidak tahu. Yang jelas ada lega, perasaan nyaman dan menyenangkan. Meskipun masih juga ada pertanyaan-pertanyaan di kepalaku tentang apa yang sudah aku lakukan. Tapi ini kan bukan soal hal benar atau salah. Ini adalah soal menjadi sedikit lebih egois. Ketika aku menceritakannya padamu. Kata-kata itu. Tentang coretan-coretan pada buku. Aku pikir aku juga berhak untuk sedikit lebih bahagia.
Denganmu aku tersadar bahwa hidup punya cara sendiri bagaimana ia tiba-tiba menikam dari belakang ketika aku kira tidak ada masalah dan semuanya akan baik-baik saja. Atau bagaimana tiba-tiba hidup membantuku keluar saat semua hal tidak berjalan dengan semestinya, saat kembali terjerembab sebelum bangun dari jatuh, dengan menciptakanmu.
Hmm, adakah yang telah mengatakannya padamu; betapa pentingnya kamu bagi orang-orang disekitarmu. Membuat mereka percaya bahwa ada seseorang diluar sana yang selalu tersenyum untuk mereka. Tidak jarang ketika mereka jatuh, senyummu membuat mereka sedikit lebih baik, sedikit lebih berani untuk melangkah, sedikit lebih bahagia.
Aku adalah salah satu diantara mereka.
Dan untuk waktu yang sekali-dua kamu berikan padaku untuk menceritakan pengalaman-pengalaman berhargamu dan membagi keping-keping puzzle yang kamu temukan: terimakasih.
Mula | Sebelum | ... 10 11 12 ... 15 16 17 18 19 20 21 ... 24 25 26 ... | Berikutnya | Akhir

