Air
Bukan hanya karena a adalah alfabet pertama, yang menjadikan mudah bagiku untuk menemukanmu; di dalam yellow book, rak-rak buku, model klasifikasi apapun, arsip tua, buku alamat, pun diantara sel abu-abu yang tak jarang diserang short-therm-memory lost. Bukan.
Tapi sejuk itu; kata-kata, senyum, sunyi, semuanya. Kamu adalah air; yang mengalir dinginkan panas, peluh dan keluh. Air yang peluk asa. Asaku yang kerap disilaukan oleh perih. Aku sadar. Aku kecil. Aku malu. Aku tidaklah istimewa.
Tuhan mencintaiku, katamu, selalu.
Aku menatapmu
dan aku melihat cinta-Nya.
Malang, Mei 2005
Untuk Saat-saat yang Kelak Kamu Sebut Masa Lalu
: untuk kvm & jss
Adalah peristiwa-peristiwa yang telah buat sekejap itu bermakna. Mungkin benar bahwa kita hanya saling bertatapan, menyentuhkan sedikit saja ujung jari kita, mencoba saling memahami langkah-langkah kita yang terlanjur membekas, uapkan sesak... Tapi itu sudah lebih dari cukup, untuk membuatku merindukanmu, sahabat.
Dan untuk hal-hal yang tidak pernah bisa diselesaikan hanya dengan senyuman; hadapi, nikmati, mari. Karena selalu ada saat-saat seperti itu, saat-saat yang kelak kamu sebut masa lalu.
Cilacap, Mei 2005
Damien Rice: Sebuah Cerita Panjang
Kamis, 5 Mei 2005
.. // so i look to my eskimo friend // when i down // down // down // ... eskimo

Aku bertanya pada iir; seorang sahabat lama yang baru saja mampir, setelah sekian lama meninggalkan yogya, dan ribuan kenangan lainnya, tentang sebuah lagu bagus yang baru kudengar dua hari yang lalu, lagu dari damien rice, the blower's daughter.
Dia cuma tertawa dan balik bertanya, "bukankah tiga tahun yang lalu aku sudah menunjukkannya padamu, tentang sebuah album indie yang semua lagunya berisi rintihan, kemarahan, emosi, kenangan dan sakit hati dari seorang yang patah hati? Orang itu bernama Damien Rice"
Benarkah? Soalnya aku merasa baru mendengarnya dua hari yang lalu ketika seorang rapa memutar lagu the blower's daughter di dalam winamp-nya.
Dia tersenyum dan bercerita sedikit tentang ingatannya yang jauh lebih kuat dariku. Lalu aku teringat dengan kotak cd berwarna putih yang pernah ditunjukkannya padaku, pemberian seorang sahabatnya, seorang doktor biologi lulusan cambridge berusia duapuluh-delapanan. Huh. Perlu tiga tahun bagiku untuk menyadari bahwa lagu itu memang bagus.
Selepas itu, dia membawakanku satu album damien rice dalam format mp3. Aku tersenyum. Mulai mendengarnya. Amie, Cannonball, Cheers Darling, Cold Water, Delicate, Eskimo, I Remember, Older Chests, Volcano lalu the Blower's Daughter. Ah, pantas saja aku suka lagu-lagunya.
Selasa, 3 Mei 2005
Hari itu panas dan aku sedang melintas di bawah rindangnya pepohonan lapangan upacara sma-ku. Sungguh, aku tidak keberatan berulang-kali melakukan hal ini: berjalan melintasi arga bagya, kantin yang dipenuhi penghuni yang masih saja tak lupa bagaimana memanggil namaku, laboratorium biologi dengan tulang-tulang tengkorak manusia, kolam teratai, aula yang kelihatannya sudah penuh dengan lukisan para kepala sekolah, ruang kelas tiga, kelas dua, pohon-pohon tua dengan nama latin tertulis diatas lembaran seng, ruang guru tempat dulu para siswa melihat planet football dan final nba, ruang kepala sekolah, ruang tata usaha.
"Wah belum jadi mas" Kata bu agustin, staf tata usaha menjawab pertanyaanku tentang penggantian sttb smaku yang hilang. "Besok ya, soalnya tadi itu salah ketik"
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Ah, itu berarti aku kembali melintasi rute menyenangkan ini, setidaknya sekali lagi, besok.
Duh
Tuhan, aku tak sekuat itu...
Ah, tuhan, selepas kamu kirimkan berjuta sahabat padaku,
aku pikir aku menjadi jauh lebih kuat...
Fly Me To The Moon
: sepucuk surat untuk bulan.
Dear bulan,
aku di atas sekarang, di antara arakan awan, ya di sana, tepat di sebelahmu, kamu bisa merasakannya bukan? Di sana nyaman. Di sana adalah tempat dimana aku bisa melihat manusia-manusia, tembok beton, pepohonan, pegunungan, jurang, jembatan, pesawat, lapangan, sapi, jalan tol, biru, putih, hijau, salju dan lautan dari jauh, tanpa ketakutan. Tempat dimana aku bisa melihat senyummu dari dekat.
Aku akan menghilang setelah ini.
Bagaimana kabar hatimu malam ini? Setelah malam-malam dengan beratus mendung yang kerap menutupimu. Hhh, tidak jarang hujan itu merampas senyum dari wajahmu. Kamu tahu kan kalau aku selalu mencemaskannya? Dan semoga tuhan masih dan selalu mencintaimu, begitupun aku.
Aku akan selalu mencoba untuk ada, bulan. Menjadi senyum dan sahabat saat jatuh, takut, sepi maupun sedih, selagi aku belum menghilang. Karena aku tahu kamupun akan melakukan hal yang sama padaku.
Mula | Sebelum | ... 10 11 12 ... 15 16 17 18 19 20 21 ... 24 25 26 ... | Berikutnya | Akhir

