Firman Maulana Personal Journal

 

Hanya Itu

OrbitMu melengkung
begitu dekat ketika aku
dekat denganMu, Kekasih.

Biasa saja.
Tidak istimewa.
Karena semua juga begitu.
Iya kan?

Namun
kenapa Kau tak
juga menjauh saat aku mulai
memalingkan wajahku dariMu.
Ketika aku meninggalkanMu
Kau malah memburuku.
Membuatku tersengal.
Berlari.
Dan ditemukan.
Ah, Kau benar-benar sedang
mencari perhatianku.
Mengaku sajalah.

Lalu...
Inikah setia itu?
Inikah cintaMu
yang kerap aku sangkal?

Duh Kekasih,
hanya satu pintaku padaMu:
"paksakanlah semua inginMu,
di setiap langkah dalam hidupku"

Hanya itu.

Mengapa Tidak Kau Jawab Saja Semua Gelisahku?

Aku mencariMu, dalam amuk, getir dan senyum pada sebuah perjalanan seumur hidup, dimanapun, kapan saja.

Dan kosong itu, semuanya gara-gara kosong itu;
hhhh, jika memang Kau yang membuatnya, hanya Kau yang bisa meluapinya.
Tidakkah Kau mengerti? Aku merindukanMu.

Aku mencariMu. Sungguh. Dalam setiap pelangi yang muncul sehabis hujan, dalam basah ketika air mengusap wajah, dalam tiap jalan-jalan sepi dengan rambu 'awas banyak anak-anak' dan 'ngebut benjut', di antara lirikan mata dan senyuman gadis manis yang menunggu gajayana di stasiun tugu pukul dua pagi, di sela hela nafas pada percakapan rutin tiap malam, dalam peristiwa-peristiwa bak kepingan puzzle yang saling bertemu disudut, dalam persimpangan hidup yang tak pernah berhenti memaksaku untuk memilih, ya memilih; to choose not to pick, dalam semua angan tentang kemarahan, kesedihan dan kekecewaan orang-orang terdekat dan dalam semua ketakutan-ketakutan terbesarku.
Tidakkah Kau mengerti? Aku merindukanMu.

Bagaimana jika pencarian ini tak pernah aku menangkan? Karena ternyata bukan aku yang mencariMu tapi Kau yang menemukanku. Karena sebenarnya Kau tidak pernah bermain petak umpet denganku. Karena sebenarnya Kau tidak pernah pergi kemanapun. Karena ternyata Kau selalu ada didekatku.

Bagaimana jika sebenarnya Kau telah berada disebelah kananku sejak lama, mengiringiku berlari mencariMu, menungguku yang selalu melihat kedepan, untuk menoleh sebentar, melihat senyumMu lalu menghampiriMu?

Kenapa Kau tak juga menyapaku jika Kau ada didekatku? Hey, kenapa diam saja? Kenapa tidak Kau jawab saja semua gelisahku? Kenapa Kau tidak juga menjawab berjuta pertanyaanku?

Ataukah aku yang tak mendengarMu...

Lima Orang yang Kamu Temui di Surga

Dimulai dari akhir. Ketika seorang Eddie menghitung mundur satu jam yang tersisa dari hidupnya di dunia. Satu jam lagi, limapuluh menit lagi, tigapuluh menit lagi, duabelas menit lagi...

Bagaimana orang memilih kata-kata terakhirnya? Apakah mereka menyadari bobot kata-kata terakhir mereka? Apakah mereka memang ditakdirkan untuk menjadi bijak?

"Mundur!" Itu adalah kata-kata terakhir Eddie.

Lalu sampai. Ke alam baka. Perjalanan Eddie menuju rumahnya yang abadi. Ternyata tidak seperti yang kerap ia bayangkan. Dia harus bertemu lima orang yang telah menunggunya untuk memaknai apa yang terjadi didalam hidupnya. Dan Eddie tak bisa bicara saat dia baru sampai.

Orang pertama

"Itu akan membuatmu mendengarkan" Kata orang pertama yang ditemui Eddie di alam baka. Si Orang Biru.

Bahwa tidak ada kejadian yang terjadi secara acak. Bahwa kita semua saling berhubungan. Bahwa kau tidak bisa memisahkan satu kehidupan dari kehidupan yang lain. Tidak ada kisah yang berdiri sendiri. Kadang saling bertemu di sudut, atau tumpang-tindih bagaikan batu didasar sungai

Para pelayat. Beberapa dari mereka tidak mengenal siapa yang dikubur hari itu. Tapi mereka tetap datang. Itu karena jiwa manusia tahu, jauh di lubuk hati mereka, bahwa semua kehidupan saling berkaitan. Kematian bukan hanya mengambil seseorang, tapi juga luput dari orang lain, dan di celah kecil antara kena dan nyaris, kehidupan berubah.

Selalu ada alasan kenapa kita berada disini. Tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya waktu yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian.

tulisan lengkapnya

Wistily

Tak ada lagi ketakutan tentang hari depan
atau menyalahkan masa lalu...

Mula | Sebelum | ... 10 11 12 ... 15 16 17 18 19 20 21 ... 24 25 26 ... | Berikutnya | Akhir

saya
laki-laki dua puluh enam tahun; tinggal di yogyakarta, indonesia, menikmati setiap detik hidupnya dan bla bla bla...

del.icio.us

pengumpan

Dutahost
jurnal firman maulana 2003–2008