Pada Suatu Hari Matahari
Pada suatu hari matahari. Pada hamparan tanah sawah dan semilir angin. Akhirnya kami bertemu lagi; aku dengan hijau alang-alang yang kian meninggi, gadis ayu yang masih malu-malu, dan kamu, sahabatku. Kau dengar senyuman-senyuman itu? Ini bukan kali pertama kita diingatkan kembali tentang ketulusan, harapan dari pribadi-pribadi yang telah kita sentuh; meski hanya lewat lambaian tangan, meski hanya lewat sekali sapa.
Kita yang pernah sekedar singgah, lalu menetap selamanya disuatu tempat di hati mereka.
Hujan yang tak kunjung datang pupuskan asa para petani; manusia-manusia yang menyerahkan hidupnya pada kemurahan alam. Ah, aku yakin kamu menyadarinya, hujan itu sebenarnya telah mampir. Bukan hanya sekali. Disuatu tempat. Pada nyanyian hidup dan sembab mata ketika hidup tidak lagi bejalan dengan mudah. Perempuan-perempuan yang kehilangan. Perempuan-perempuan yang mencoba untuk tetap tegar. Perempuan-perempuan yang menangis.
Kita yang pernah sekedar singgah, lalu menetap selamanya disuatu tempat di hati mereka.
Lalu kamu muncul. Di awan tinggi. Di sebelah timur. Beradu pandang dengan matahari. Ketika sinarnya ramah; satu-satunya saat dimana kalian bisa melepas rindu. Pada suatu hari matahari.
Putih
Jika aku telah memulai cerita dengan
berjuta kata, sikap, senyap yang buat perih.
Jika saja terucap didepanmu, menikammu
di punggung, atau hati yang muntahkan sumpah serapah.
Jika aku berulangkali menancapkan paku yang
sama pada luka yang sama...
Maka hanya samudera maafmu yang akan
leburkan sungai-sungaiku.
Dari Tempat Paling Sunyi di Dunia
"Kamu yakin?" Tanyaku padamu, "Apa kamu benar-benar ingin kesana?"
"Tentu saja." Jawabmu mantap, tak ada setitik ragu kutemui dalam matamu.
"Meskipun kita hanya berdua?" Tanyaku lagi, ingin menegaskan bahwa perjalanan ini jauh; teman-teman yang biasanya mengiringi pun tak ada. Ingin menegaskan jika hatimu akan segera mendekati perih; sahabat-sahabat yang biasanya menemani pun tak ada.
"Ya!"
Lalu kami berangkat. Sabtu. Siang mendekati sore. Hari bintang. Jalan sepi. Menuju kearah Barat. Berkejaran dengan senja. Berdua saja. Melalui Ringroad Utara, Monumen Yogya Kembali, tikungan yang sepi, Gamping, Wangsa Manggala, kali Progo, patung Nyi Ageng Serang, Wates.
"Hey, mana jalan tercepat menuju Barat?" Kamu bertanya seolah kita tidak mungkin bisa berbalik memutar jika persimpangan itu terlewat barang semeter dua.
"Ya, bersiap belok ke kiri, setelah pompa bensin di depan." Jawabku.
Sudah Selesai Cak!
Tugas Anda sudah rampung. Tugas yang Anda tutup dengan senyuman. Sungguh. Biarlah tongkat estafet itu diteruskan oleh tenaga-tenaga muda yang masih kuat, penuh toleransi, moderat, berjalan diatas pluralisme, dan keterbukaan.
Dan terimakasih untuk meluaskan sempitnya Islam dalam pikiran kami, baik umat Islam maupun bukan. Pun mungkin saja gagasan-gagasan Anda sering dianggap kontroversial. Tapi percayalah; kami sependapat jika pluralisme adalah bagian dari ketentuan Tuhan yang tak terelakkan. Kami sadar jika perbedaan adalah suatu anugrah, bukan suatu ancaman. Semoga saja kami tidak lupa.
Selamat jalan Cak.
Nurcholis Madjid, 1939-2005
Senja Tak Pernah Mampir di Sini
Mencoba sesuatu yang baru selalu membawa sedikit ragu. Begitu juga dalam perjalanan menuju timur; tidak seperti biasanya, aku mencoba untuk tidak memilih melewati jalan antar kota dan antar propinsi itu, salah satu pondok pesantren putri ternama itu, gapura batas propinsi yang angkuh itu dan hutan jati itu. Ragu. Apalagi ketika mendapati petunjuk berisi informasi bahwa jalan yang aku pilih sedang ditutup. Hmmm, jalan terus atau berbalik ya?
Jalan mulai menanjak beberapa saat setelah meneguhkan hati untuk tetap mencoba jalan alternatif itu. Brr dingin. Mesin kendaraan sudah mulai meronta ketika dipaksa mendaki tanjakan yang terlihat tidak manusiawi itu. Duh, sesaat ada umpatan dalam hati; gila siapa yang kuat kalo jalannya kayak gini! Hahaha manusia gondrong dengan sepeda gunung dan semangatnya yang kutemui dibeberapa tikungan sesudahnya membuatku menertawakan diri sendiri yang kerap mengeluh dan mengumpat.
Mula | Sebelum | ... 3 4 5 ... 8 9 10 11 12 13 14 ... 17 18 19 ... | Berikutnya | Akhir

