Firman Maulana Personal Journal

 

Hujan di Akhir November

Akhir November. Dingin. Hujan yang turun basahi bumi.

Ketika setiap orang melihat hal yang sama setiap hari, melakukan hal yang sama, menikmati hal yang sama, menyapa nama-nama yang sama. Disudut frekuensi hidup yang lain seorang sahabat diberi kesempatan untuk hidup dan bersyukur lebih lama pada saat as truk melindas kepalanya dan di sudut lain seorang sahabat tiba-tiba membawa sepi yang dibungkus rapi oleh kertas berlabel perih.

Ah, kita yang mulai datang dan menantang hidup, sahabat. Kita yang merasakan hal yang sama pada tiap senyum dan sakit. Menapaki sebuah jalan yang panjang dimana kita hanya bisa menoleh kebelakang tanpa bisa kembali, dimana jejak-jejak kaki kita telah membuat semua menjadi berbeda, dimana kita tak akan kembali menjadi kita yang kemarin, dimana semua titik adalah tempat yang berbeda.

Lalu ada; saat-saat yang memaksa kita untuk berhenti sejenak untuk memaknai apa-apa yang kita lakukan. Kadang hanya untuk menyadarkan kembali bahwa hidup ini sedemikian berharga atau untuk mengingatkan bahwa selalu ada cahaya bernama harapan, bahwa kita tidak pernah berjalan sendiri, bahwa selalu ada sahabat di langit kita yang biru atau untuk kembali percaya bahwa kita sebenarnya masih ada dalam radius pendengaranNya.

Dan akhir November ini turun hujan; larutkan kisah-kisah hidup pada dinginnya.

Menikmati Sakit

Sudah seminggu sejak gejala awal yang biasa kusebut menurunnya daya tahan tubuh karena perubahan iklim. Ouch, ternyata tak semudah itu mengenyahkannya, tidak cukup dengan kerokan, minum susu beruang, banyak tidur serta empat butir Decolgen. Udara yogya juga sedang tidak bersahabat. Aku masih sering menekuk muka jika hujan datang, dingin. Tidak seperti seorang sahabat yang begitu menyukai hujan.

Akhirnya aku menyerah. Tak kuat dengan batuk yang menyerang tenggorokan dengan membabi-buta. Setelah lima hari, aku baru menggunakan kartu berobat di sebuah rumah sakit katolik di kota yang ramah ini. Sambil membaca surat kabar harian yang memuat opini menarik dari Abdul Munir aku menunggu antrian panjang pesakitan dokter spesialis umum. Nomor duapuluh empat.

"Jangan merokok, minum es, makan pedas dan tidur kelewat malam." Dokter yang ramah itu memberiku jampi-jampi lekas sembuh.

Hmm. Aku memang tidak merokok, jarang minum es dan lidah dan perutku menolak cabai. Kenapa batuk dan pilek itu tak kunjung menjauh ya?

Uhuk-uhuk, lalu beberapa butir Zegase, Dexymox, Tuzalos dan satu obat batuk berbungkus kuning yang aku lupa namanya menjadi pengisi backpack-ku menemani dua ballpoint, charger, beberapa novel dan komik, bluetooth, flashdisk dan sikat gigi.

Uhuk-uhuk, saatnya memanjakan diri dan istirahat.

Empat Puluh Enam

Hari-hari yang penuh rahmat,
anugrah dan senyum.
Tahun-tahun yang tak pernah disesali.
Hidup yang selalu disyukuri.

Selamat mengulang tahun, ibu.
Semoga ibunda tetap menjadi embun
penyejuk bagi semua.

Sayang dan cinta dari ananda
yang kerap redupkan cahya di sepasang
mata yang penuh kasih itu.

Pada Suatu Hari Matahari

Pada suatu hari matahari. Pada hamparan tanah sawah dan semilir angin. Akhirnya kami bertemu lagi; aku dengan hijau alang-alang yang kian meninggi, gadis ayu yang masih malu-malu, dan kamu, sahabatku. Kau dengar senyuman-senyuman itu? Ini bukan kali pertama kita diingatkan kembali tentang ketulusan, harapan dari pribadi-pribadi yang telah kita sentuh; meski hanya lewat lambaian tangan, meski hanya lewat sekali sapa.

Kita yang pernah sekedar singgah, lalu menetap selamanya disuatu tempat di hati mereka.

Hujan yang tak kunjung datang pupuskan asa para petani; manusia-manusia yang menyerahkan hidupnya pada kemurahan alam. Ah, aku yakin kamu menyadarinya, hujan itu sebenarnya telah mampir. Bukan hanya sekali. Disuatu tempat. Pada nyanyian hidup dan sembab mata ketika hidup tidak lagi bejalan dengan mudah. Perempuan-perempuan yang kehilangan. Perempuan-perempuan yang mencoba untuk tetap tegar. Perempuan-perempuan yang menangis.

Kita yang pernah sekedar singgah, lalu menetap selamanya disuatu tempat di hati mereka.

Lalu kamu muncul. Di awan tinggi. Di sebelah timur. Beradu pandang dengan matahari. Ketika sinarnya ramah; satu-satunya saat dimana kalian bisa melepas rindu. Pada suatu hari matahari.

Putih

Jika aku telah memulai cerita dengan
berjuta kata, sikap, senyap yang buat perih.
Jika saja terucap didepanmu, menikammu
di punggung, atau hati yang muntahkan sumpah serapah.
Jika aku berulangkali menancapkan paku yang
sama pada luka yang sama...

Maka hanya samudera maafmu yang akan
leburkan sungai-sungaiku.

Mula | Sebelum | ... 3 4 5 ... 8 9 10 11 12 13 14 ... 17 18 19 ... | Berikutnya | Akhir

saya
laki-laki dua puluh enam tahun; tinggal di yogyakarta, indonesia, menikmati setiap detik hidupnya dan bla bla bla...

del.icio.us

pengumpan

Dutahost
jurnal firman maulana 2003–2008