Firman Maulana Personal Journal

 

Kita Belum Juga Membacanya

"Dua hari lagi umat Kristiani merayakan Natal. Namun, yang mengherankan, setiap kali menjelang Natal selalu ada ancaman atau teror"
Ayang Utrizna Nway pada opini kompas hari ini

Dan pertanyaan-pertanyaan itu selalu menari-nari, pertanyaan tentang kenapa, kenapa dan kenapa.

Kenapa selalu ada kamu dan aku? Orang kita dan bukan orang kita? Selalu saja mengkotak-kotakkan. Kenapa bukan kita saja, kita yang bersaudara meskipun berbeda?
Kenapa begitu cepat kita menyimpulkan penafsiran itu sebagai kebenaran?
Kenapa kita menjadi begitu sombong seolah-olah penafsiran kita adalah wahyu Tuhan itu sendiri?
Sudahkah kita membacanya dengan kerendahan hati?

Karena pada mulanya adalah Kata1, maka bacalah, dengan nama Tuhan2

Cobalah baca Alkitab seperti umat Kristiani membacanya, begitu juga dengan Al-Qur'an seperti umat Muslim membacanya, maka kita akan menemukan Tuhan yang sama. Tuhan yang penuh kasih.

Tuhan yang selalu kita rindukan.

_______________________
1dari Yohanes 1:1
2dari Al Alaq 3

Orang-orang Asing

Kota ini masih hujan. Dan aku masih keras kepala. Entah sudah berapa kali aku menerobos hujan yang lebat dalam beberapa hari terakhir.

"Acara kita dari jam dua sampai jam sembilan ya." Begitu pesan singkatmu ditengah hari yang hujan. Lalu kami berangkat, ke arah selatan jauh, pukul tiga sore.

Beberapa nama baru telah mengisi buku teleponku dalam tiga bulan terakhir. Ah, aku pikir aku sudah terlalu tua untuk menyinggahi sudut-sudut hati. Aku pikir ini hanya akan menjadi seperti nama-nama yang sekedar memenuhi memori ponsel ataupun memperpanjang deretan pada daftar kontak surat elektronik. Tapi tidak.

tulisan lengkapnya

Saat Satriani Tak Mampu

"Mozart? Saya tahu kok. Dream Theater? Punya albumnya dong. Backstreet Boys, Green Day, Damien Rice, Oasis, Kelly Clarkson? Name it, I love it! Apalagi Stasiun Balapan. Semua ada di playlist iPod Nano saya!" Begitu kata seorang sahabat.

Teknologi tanpa batas membuat musik menjadi sesuatu yang jamak. Bit-bit yang menyimpan alunan nada; dari klasik sampai pop, dari jaman batu hingga generasi MTV. Begitu juga otak yang dijejali bebunyian dari saat mengawali hari sampai terlelap lagi. Saya yang jadi serba tahu, tapi bukan berarti telah memahaminya, sadar maupun tidak, perlahan saya mulai kehilangan esensi musik itu sendiri.

Memang sudah sepantasnya musik lebih dihargai, bukan sekedar sebagai pelengkap yang didengarkan ketika mengerjakan rutinitas sehari-hari. Mungkin dengan begitu saya jadi lebih mengerti dan memahaminya.

tulisan lengkapnya

Ketika Kota ini Mulai Berkabut

"Kamu tahu? Telinga adalah bagian terdingin dari tubuh manusia." Kataku, padamu, ketika kabut putih itu mulai turun dan dinginnya menelusup kaku kedalam jaket yang memang tidak tebal.


"Hmm, aku tak setuju." Jawabmu. "Bukan telinga, tetapi hati. Iya, hati adalah bagian terdingin dari manusia."

...

Dan bulan yang hampir purnama dengan cahaya temaramnya seakan ikut mengangguk, mengiyakanmu.

Lalu ada; bayangan-bayangan yang melintas di kepala, beberapa hati manusia yang telah membeku

...karena aku.

Mula | Sebelum | ... 3 4 5 ... 8 9 10 11 12 13 14 ... 17 18 19 ... | Berikutnya | Akhir

saya
laki-laki dua puluh enam tahun; tinggal di yogyakarta, indonesia, menikmati setiap detik hidupnya dan bla bla bla...

del.icio.us

pengumpan

Dutahost
jurnal firman maulana 2003–2008