Firman Maulana Personal Journal

 

Di Sudut Sebuah Warung Kopi

Berada disudut sebuah warung kopi sendiri ternyata bukan pilihan buruk. Meskipun memilih untuk duduk diluar; didekat jalan raya yang memang sudah terlanjur karut-marut. Aku mulai bisa menikmati lalu-lalang orang-orang, sesekali melihat wajah-wajah bergegas, siapa tahu aku bisa mencuri senyuman-senyuman sesaat ketika mereka melempar tatapannya. Ya, aku masih sering mencurinya. Tak apa kan?

Aku memesan segelas kopi tentu saja. Mulai menulis. Menulis apa saja; to-do-list yang perlahan beralih menjadi must-to-do-list, mengetik baris-baris kode program yang menyenangkan dan segera melampirkannya pada sebuah surat elektronik, maupun sekedar kembali menulisi jurnal ini.

Langit gelap. Bulan tak juga tampak. Sepertinya mau hujan. Ah, Maret hampir habis dan gerimis masih saja mampir. Aku minum kopi itu. Sedikit. Menikmati kebisuanku sendiri. Sesaat. Ketika bintang hanya menjadi titik putih kecil dalam kerudung malam yang pekat. Aku minum lagi. Pahit.

Awan datang, selimuti bintang. Ada tulisan 24 jam dibawah nama warung kopi ini. Mengingatkanku akanmu yang pernah bergumam padaku tentang kerja, pagi, waktu dan Vienna. Ya, tak jarang aku ingin berbagi denganmu ditempat dimana waktu bisa berhenti. Mau kubawakan kabut agar kamu tak bisa melihatku menatap sorot lelah dari sepasang mata dibawah lengkung alismu?

Sungguh, kadang aku berpikir; Sudahlah. Kenapa kita tidak menyerah saja ketika kita tidak berhasil membuat semua orang bahagia. Bisa jadi kita berusaha terlalu keras. Kenapa kita tidak menjadi sedikit lebih egois, menjadi sedikit lebih manusiawi. Dan kamu tidak juga menyerah.

Lalu sesaat aku seolah mengerti alasan kenapa Tuhan menciptakanmu.

Tak jarang aku ingin berbagi denganmu ditempat dimana waktu bisa berhenti. Meski hanya keluh yang sama. Lagi dan lagi. Aku tahu kamu tak akan jenuh mendengarnya. Begitu juga sebaliknya. Kita yang sering berbagi, with the words that nobody needs to know.

Aku minum lagi. Masih pahit. Tetes terakhir. Habis.

Aku pulang.

Sebenarnya Seperti Itu

Tak ada yang harus kamu lakukan
ketika bersamaku,
karena aku suka membuat segala
sesuatu menjadi lebih sederhana.

Ya, sebenarnya hanya seperti itu.

Balkon

Aku tidak suka berada di tempat yang tinggi; berada di pinggir jendela pada gedung empat lantai, di puncak tangga bambu tiga meteran atau tepian lantai atas pasar-pasar super dan hiper. Rasanya seperti ingin melompat saja ketika melihat arah bawah, selain kupu-kupu yang terbang kesana-kemari dalam perutku dan perasaan-perasaan menyebalkan lainnya. Mungkin saja phobia. Phobia yang menyebabkan aku mengurungkankan niat untuk naik kepuncak monas saat melihat tanah dari pinggir mangkuknya. Begitu juga dengan pohon jambu. Takut jatuh? Ah, padahal aku sudah sering jatuh.

Tempat yang tinggi belum tentu menarik bagi semua orang. Satu-satunya ketinggian yang tidak membuatku membayangkan macam-macam dengan proyeksi sadis, mungkin hanya gunung. Ya, gunung. Aku tidak membayangkan gunung dengan imajinasi tentang tersesat, bertemu harimau, jatuh ke jurang maupun hypothermia. Gunung adalah wajah-wajah asing yang selalu bersahabat, puncak dan fajar. Itu saja.

tulisan lengkapnya

Dari Celine dan Jesse

"Kamu tahu, belakangan ini aku sering berpikir. Kamu kenal pasangan yang bahagia?"

"Ya tentu saja, aku kenal beberapa pasangan bahagia. Aku pikir mereka saling membohongi satu sama lain."

Celine dan Jesse - Before Sunrise

Mungkin tak salah. Bisa jadi seperti itu. Pemahaman-pemahaman yang menentang suatu konsep ideal biasanya memberikan lebih banyak sudut pandang. Karena tidak setiap hal dipandang atau dipahami dari sudut yang sama. Begitu juga dengan suatu hubungan. Beberapa orang memandang seperti Celine dan Jesse. Beberapa lagi mungkin tidak seperti itu.

tulisan lengkapnya

Itu Bukan Masalah

Jika hal itu tidak menjadi masalah bagimu maka tidak juga bagiku, bukan begitu sahabatku?

Manusia-manusia disekeliling kita akan selalu membuat berbagai macam suara, suara-suara yang bisa membunuh jiwa. Sebenarnya mereka sedang mencoba menjadi siapa? Sebenarnya jiwa siapa yang sedang mereka jatuhkan?

Kelak waktu akan mengajarkannya padamu. Lalu kamu akan mengatakannya padaku; bahwa tak ada sesuatu didunia ini yang dapat membuat kita bersedih. Hanya kita yang bisa mengubah perasaan kita; tentang aku, kamu, kita atau siapapun juga. Sekarang matikan lampunya. Menjauhlah dari riuh kerumunan. Sudah saatnya mendinginkan segala sesuatu yang terlampau panas.

Hari-hari yang telah lalu dan langkah-langkah yang terambil yang kita anggap salah, itu bukan lagi masalah. Semua hal yang belum kita miliki, itu juga bukan masalah. (Hhhh, kita tidak memiliki semua yang kita cintai, mengapa kita tidak mencintai semua yang kita miliki)

Jika hal itu tidak menjadi masalah bagimu maka tidak juga bagiku.

Dan setiap hari manusia-manusia seperti aku dan kamu tidak memimpikan hidup dengan topeng yang selalu menutupi wajah asli.

(Akhirnya aku tahu kenapa kamu suka lagu ini)

Mula | Sebelum | ... 3 4 5 ... 8 9 10 11 12 13 14 ... 17 18 19 ... | Berikutnya | Akhir

saya
laki-laki dua puluh enam tahun; tinggal di yogyakarta, indonesia, menikmati setiap detik hidupnya dan bla bla bla...

del.icio.us

pengumpan

Dutahost
jurnal firman maulana 2003–2008