Firman Maulana Personal Journal

 

Perempuan Dengan Mata Sayu

: untuk dina

Hhh, akhirnya aku menulis untukmu, setelah berabad lalu kupalingkan wajahku dari segala sesuatu tentangmu. Lama? Ya, aku hampir menghabiskan selamanya untuk menambal lubang-lubang di seonggok hati itu, hampir selamanya untuk semua coba untuk bangkit ketika tersandung pada batu yang sama, hampir selamanya untuk meneguhkan diri untuk dapat kuat kepakkan sayap, untuk tidak takut untuk terbang, juga hampir selamanya untuk mengingat apa-apa yang telah aku lupa.

Aku lupa, bahwa semua sampah ketika hati terluka itu adalah kata dan rasa kita yang berbuih-buih saat kita masih ada. Entah siapa melukai siapa. Tak jarang aku bertindak kekanakan ketika aku mencoba untuk menjadi dewasa. Aku lupa ketika kamu melukaiku, kamu juga terluka.

Aku lupa jika ternyata tokoh antagonis hanya ada dalam sinetron dan film-film hollywood. Padahal kamu tahu? Saat itu sangat mudah bagiku menjadikanmu semacam Darth Vadder dalam hidupku, penjahat terbesar yang pernah dimiliki oleh galaksi. Tapi kebencian tidak akan pernah menolong suatu jiwa. Aku benar-benar lupa dengan perasaan ringan yang ada ketika memaafkan.

Aku lupa bahwa kita berdua terlalu lama menahan jenuh. Mengakulah. Sampai lupa dengan binar-binar. Terjebak dalam rutinitas dan ketakutan. Tak juga sadar bahwa kamu, aku, kita sebenarnya ingin terbang, jauh, tinggi, ke arah yang berbeda. Aku yang begitu ingin memahamimu ternyata sering tersandung dalam sensasi dan kehilangan esensi.

Aku terus saja menyalahkanNya ketika dunia tidak seperti apa yang aku harapkan; ketika kita berpisah, ketika suka berubah luka. Lucu ya? Aku sering memperlakukanNya seperti pembantu, bukan sahabat pun kekasih. MenyuruhNya melakukan ini-itu. Meminta apa saja padaNya. Tak jarang aku berdagang denganNya. Aku akan bercinta denganNya jika Dia mengabulkan mohonku. Padahal surga itu adalah ketika aku dekat denganNya. Lucu sekali. Sampai aku tahu bahwa kamu harus melukaiku, kamu harus pergi dariku, kamu harus berpisah dengan cara yang paling menyebalkan adalah satu-satunya jalan bagiku untuk kembali merenungi semua jejak dari langkah-langkahku yang lambat laun kian menjauh dariNya.

Lama? Ternyata tidak juga, Dia tahu saat yang tepat kapan hatiku bisa memaafkanmu. Dia tahu pasti waktu yang sempurna untuk semua karyaNya.

Dan untukmu perempuan bermata sayu; maaf dan terimakasih.

6 komentar »

  1. gravatarjenx
    Selasa, 26 Juli 2005, 23:07:32

    watauwww... dalemmmmmm ...
    well, semua akan indah pada waktunya
    dats ol i knew :D
    tatap yang di depan, fi.. sumtimes it's covered by past-fog..

  2. gravatarfirman
    Rabu, 27 Juli 2005, 21:16:23

    Guah selalu terpesona,koq bisa sih nulis yang dalem2 kaya gini. Great,bro!

  3. gravatarfirda
    Sabtu, 30 Juli 2005, 11:51:37

    akhirnya luka itu bisa mengering juga...
    ganbatte kudasai,bro...

  4. gravatarkusaeni
    Minggu, 31 Juli 2005, 15:33:02

    terluka , bisa mengering? wa ha tapi tetap membekas kan ?

    jadi namanya Dina ya? Dina apa ?

    Dina senin , dina selasa , atau dina rabu ?

    :)

  5. gravatardeva
    Selasa, 2 Agustus 2005, 10:41:45

    emg sedih yaa klo gi putus cinta....
    tp kya pepatah bilang "ada pertemuan, pasti ada perpisahan."
    so .... putus yg satu cari lagi ganti nya ....

  6. gravataragustop
    Senin, 29 Agustus 2005, 14:21:46

    Wah min, terharu aku kowe iso nulis kaya gitu...wah aku sampai tetananan sing baca dan terusterang aku meraba batin dan pikiranmu apa kowe tulus atau hanya sens-asu wae, ben dikiro romantis...tapi ternyata dititik batinmu terdalam pancen kowe tulus nulis kowi ..bravo farmin anak medok

pengumpan

nama *

email *

URI (opsional)

URI adalah hal yang bersifat opsional, anda berhak merahasiakannya. Tag yang diijinkan adalah <a><strong><em>.

Untuk menampilkan gravatar icon anda harus menjadi anggota layanan gratis gravatar.com dan memasukkan alamat email. Email Anda tidak akan ditampilkan. Sungguh.

Komentar:



Diletakkan di Solilokui pada Minggu, 24 Juli 2005, 14:46, sementara ada 6 komentar.

jurnal firman maulana 2003–2008