Firman Maulana Personal Journal

 

Penuh Waktu

Hari-hari melelahkan, don't-know-will-be days aku menyebutnya, berganti begitu saja, menyeret-nyeret langkah yang masih saja tertatih jika harus berlari. Aku capek. Aku menyerah saja. Tapi kamu tidak sependapat denganku.

Dan dalam satu tarikan nafas pendek ada yang berubah; ada senyum yang muncul, ada gelak yang terbuang, ada anggukan pelan yang langsung beralih gelengan. Saat tegar maupun jatuh. Tuhan bekerja dengan cara yang sangat misterius, caranya sendiri, cara yang menjengkelkan kurasa, cara dia memberiku pelajaran hidup (ah, ternyata aku punya tuhan yang maha-pemberi-kejutan, tuhan yang juga maha-deadliner).

Days-on, days-off. Dalam hidupku konstan adalah semu, seperti juga statis, abadi, ideal dan sempurna. Tidak ada yang mengharapkanmu untuk terus-terusan tersenyum saat kamu tidak menginginkannya. Bukannya ingin mengecilkan masalahmu pun sebaliknya. Sesekali ruang egois itu perlu memaksa dunia agar kelabakan menyesuaikan dirinya dengan kita. Sesekali saja. Tak apa kan?

"Di surga kulihat sepasang mata milikmu
Pada sepasang matamu kulihat surga1"

Adalah waktu-waktu itu, saat dimana aku bisa menjadi apa yang aku rasakan, dimana senyum dan airmata adalah hal yang sama, dimana empati tidak berarti jatuh bersama-sama, melainkan bagaimana bersama-sama bangkit. Ini bukan tentang hal-hal yang harus dilupakan, tapi tentang adaptasi, membiasakan diri dengan hal-hal yang tak mungkin dihapus, menjadi bagian dari cerita, suka atau tidak.

Tidakkah kamu sadari? Bagiku ini adalah 'kerja-penuh-waktu2' yang menyenangkan.

_______________________

1 Ajaklah Aku Kemanapun Kau Pergi, Maulana Jalaluddin Rumi.
2 Meskipun tidak 24/7 tapi masih merupakan kalender yang tak pernah merah (hmm today its my prophet's birthday, isn't it?)

3 komentar »

  1. gravatarfirman
    Jumat, 22 April 2005, 9:59:33

    Aloww,bro...

    Satu kata jangan pernah menyerah
    .....
    .....

  2. gravatardidats
    Jumat, 22 April 2005, 21:53:55

    ya, kadang perasaan itu selalu ada.
    tapi kita harus sabar menghadapinya....

    hadapi dengan senyum sajah... ;)

  3. gravatarkusaeni
    Sabtu, 23 April 2005, 12:14:47

    wah puisi lagi dari el Jalaludin Rumi yah .. hmm kalo gw seh ngelihat surga di telapak kaki ibu gw :D

    [[ jadi inget Dewa ( -19 ) hey Dhani ( Ahmad ) ..loh pendukung yahudi /israel yah? ]]

pengumpan

nama *

email *

URI (opsional)

URI adalah hal yang bersifat opsional, anda berhak merahasiakannya. Tag yang diijinkan adalah <a><strong><em>.

Untuk menampilkan gravatar icon anda harus menjadi anggota layanan gratis gravatar.com dan memasukkan alamat email. Email Anda tidak akan ditampilkan. Sungguh.

Komentar:



Diletakkan di Harian pada Jumat, 22 April 2005, 8:14, sementara ada 3 komentar.

jurnal firman maulana 2003–2008